Strategi budaya Sunan Kalijaga menjadikan ketupat media damai penyebaran Islam di Nusantara.


KOSONGSATU.ID—Ketupat kini selalu hadir dan sangat identik dengan perayaan Idul Fitri di Indonesia. Kehadirannya di meja makan setiap tahun bukan sekadar pelengkap hidangan berkuah santan.

Ada jejak sejarah peradaban yang sangat panjang melekat erat pada anyaman daun kelapa muda ini. Di balik wujudnya yang sederhana, ketupat menyimpan sebuah kisah penyebaran agama Islam yang luar biasa memukau.

​Akar sejarah ketupat sebenarnya bermula jauh dari era pra-Islam di kawasan Nusantara. Masyarakat agraris kuno di tanah Jawa dan Bali sudah lebih dulu menggunakannya. Mereka menjadikan anyaman berisi beras ini sebagai bentuk sesajen pemujaan kepada Dewi Sri, sang dewi pertanian.

Praktik ini murni merupakan bentuk rasa syukur komunal atas hasil panen raya yang melimpah ruah. Namun, arah sejarah berubah drastis memasuki awal abad ke-15.

​Masuknya agama Islam ke Pulau Jawa membawa babak baru bagi eksistensi tradisi ketupat.

Di bawah pemerintahan Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, yakni Kesultanan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah, tradisi lokal ini dihadapkan pada sebuah persimpangan.

Hebatnya, tradisi turunan agraris ini tidak serta merta dihapus secara paksa. Pendekatan radikal sangat dihindari oleh para pendakwah masa itu.

​Wali Songo, khususnya Sunan Kalijaga, memilih jalan asimilasi budaya yang cerdas dan mengalir. Sang Sunan melihat potensi pendekatan kultural yang sangat besar pada wujud ketupat yang sudah membaur dengan masyarakat.

Ia kemudian mendekonstruksi fungsi utama ketupat.

​Mahakarya Diplomasi Budaya

​Wujud fisik ketupat sengaja dipertahankan secara utuh, namun esensinya diubah total dari ritual animisme dan dinamisme menjadi sarana dakwah keagamaan.

Dalam praktiknya, Sunan Kalijaga memperkenalkan sebuah tradisi baru bernama Bakda Lebaran yang digelar saat Idul Fitri, serta Bakda Kupat pada satu minggu setelahnya.

​Pada kedua momen krusial tersebut, ketupat dibagikan secara masif kepada masyarakat luas. Tujuannya sangat jelas dan terukur. Sang Sunan ingin mentransformasi sebuah tradisi lokal kuno menjadi media penyebaran nilai-nilai Islam yang ramah, sekaligus menyematkan makna permohonan maaf dan kesucian batin.

​Sejarawan Kuliner Universitas Padjadjaran, Fadly Rahman, menguraikan lebih lanjut fenomena historis ini. Lewat riset arsipnya pada periode 2020-2023, ia menyatakan bahwa ketupat adalah medium penyebaran agama yang brilian.

​”Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai ke-Islaman. Momen ini yang bisa membuat kuliner masa lalu bisa tetap bertahan dan disukai,” jelasnya, dikutip dari materi riset, Sabtu (21/3/2026)

​Taktik luhur Sunan Kalijaga ini diakui secara luas oleh sosiolog dan sejarawan sebagai sebuah mahakarya diplomasi budaya.

Sebuah taktik kultural yang sukses mempercepat proses Islamisasi di Nusantara tanpa memicu resistensi budaya.

Tidak ada setetes pun konflik berdarah yang tercipta. Ketupat berhasil menjadi pusaka kuliner yang bertindak sebagai simbol toleransi abadi.***