Ketupat memaksa setiap individu mengakui kesalahan tanpa pandang kelas sosial.
Oleh: Eko Kris | Kontributor KosongSatuID
Tradisi Lebaran di Indonesia menyuguhkan fenomena sosial yang sangat unik. Di hari kemenangan tersebut, sekat-sekat status sosial di masyarakat seolah runtuh dan setara.
Usut punya usut, karakter egalitarian dan kesetaraan kelas ini lahir dari sebuah hidangan tradisional bernama ketupat yang membawa pesan moral sangat kuat.
Filsafat kesetaraan ini berakar dari abad ke-15 pada era dakwah Wali Songo. Sunan Kalijaga tidak hanya merumuskan ketupat sebagai hidangan, tetapi menyematkan kode linguistik yang tajam.
Dalam bahasa Jawa, nama “Kupat” sengaja diambil dari singkatan frasa “ngaku lepat“, yang secara harfiah memiliki arti “mengakui kesalahan”.
Pemaknaan ngaku lepat ini memiliki dampak sosiologis jangka panjang yang luar biasa.
Ketupat berfungsi sebagai pengingat bahwa setiap manusia mutlak memiliki kesalahan. Melalui tradisi menyantap dan membagikan ketupat, setiap individu dari berbagai strata ekonomi, baik pejabat maupun rakyat biasa, diwajibkan untuk menundukkan ego, mengakui kesalahan, dan saling bermaafan.
Menyatukan Warisan Lintas Era
Nilai kesetaraan yang diajarkan lewat ketupat ini membuktikan kegeniusan metode dakwah masa lalu. Sejarawan Universitas Padjadjaran (Unpad), Fadly Rahman, pada 22 April 2023 menjelaskan perpaduan nilai ini.
“Ketupat sudah ada pada masa pra-Islam dan tersebar di wilayah hampir di Asia Tenggara dengan nama yang berbeda-beda. Sunan Kalijaga menjadikan ketupat sebagai budaya sekaligus filosofi Jawa yang berbaur dengan nilai keislaman,” ungkap Fadly.
Hal ini menunjukkan bagaimana ketupat berhasil diangkat dari sekadar sesaji panen menjadi kurikulum moral bagi peradaban masyarakat Nusantara.
Resolusi Konflik yang Menyenangkan
Ahli sejarah asal Belanda, Hermanus Johannes de Graaf, yang pendapatnya dirilis pada April 2023, mencatat jejak kemunculan awal dari produk budaya ini. “Ketupat pertama kali muncul di daerah Jawa, tepatnya di abad 15, pada masa kepemimpinan Kerajaan Demak,” tuturnya.
Melalui filosofi Ngaku Lepat yang dilahirkan di Demak, perayaan Idulfitri dan Iduladha memiliki instrumen resolusi konflik yang menyenangkan. Konflik atau ketegangan sosial yang terakumulasi selama setahun bisa dilebur tuntas di meja makan.
Tradisi ini terbukti menanamkan karakter egalitarian sejati, di mana masyarakat nusantara sadar bahwa di hadapan Tuhan, yang membedakan manusia hanyalah amal baiknya, bukan pangkat maupun hartanya.**





Tinggalkan Balasan