Tradisi Lebaran Kupat dan mudik ternyata berakar dari era Majapahit, memadukan budaya kuno dan Islam yang lekat di Nusantara.
KOSONGSATU. ID – Jejak perjumpaan dua era peradaban ini dapat kita telusuri lebih dalam melalui salah satu perayaan pasca-Idul Fitri yang paling ikonik di pulau Jawa.
Masyarakat Jawa memiliki kebiasaan merayakan Lebaran Kupat satu minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Siapa sangka, tradisi kumpul keluarga sambil menyantap ketupat ini mewarisi kemegahan acara Kerajaan Majapahit ratusan tahun silam.
Naskah Negarakertagama dan Pararaton mencatat bahwa Prabu Hayam Wuruk, Raja Majapahit, rutin menggelar pesta besar setiap tanggal 4 bulan Badra. Tradisi ini kemudian bertransformasi dan menyatu dengan kebudayaan Islam di tanah Jawa.

Kanjeng Adipati Arya Jaya Adinagara, seorang pensiunan bupati Mojokerto, mencatat hal ini dalam naskah kuno Bakda Riyadi: Satunggiling Adat Kina. Ia menuliskan bahwa perayaan yang berlangsung dari tanggal 21 bulan Siyam (Ramadan) hingga tanggal 8 Sawal (Syawal) sangat mirip dengan festival era Majapahit.
Masyarakat zaman dahulu menyebut tradisi menziarahi makam pada hari Lebaran ini sebagai Nyadran, yang kemungkinan besar berakar dari kata Sradda (upacara penghormatan arwah leluhur pada masa Hindu-Buddha).
Dari Kakawin Ramayana hingga Taktik Dakwah Sunan Kalijaga
Ketupat tidak lahir begitu saja saat Islam masuk ke Nusantara. Jejak kuliner berbahan dasar beras dan janur ini sudah terekam kuat dalam berbagai manuskrip kuno. Kakawin Ramayana dari abad ke-9 menjadi naskah tertua yang menyebut kata Kupatay.
Sejarah mencatat konsistensi kehadiran ketupat melintasi berbagai era kerajaan. Naskah Kakawin Kresnayana pada era Kadiri (abad ke-12), serta Kakawin Subadra Wiwaha dan Kidung Sri Tanjung dari era Majapahit (abad 14-15 Masehi) turut merekam jejak makanan ini.




Tinggalkan Balasan