Kamu pikir makan pakai tangan itu primitif? Ilmu fisiologi pencernaan punya jawaban yang menampar asumsi itu.
KOSONGSATU.ID — Sebelum makanan menyentuh lidahmu, tubuhmu sudah mulai mencerna. Itulah inti dari apa yang selama berabad-abad dilakukan leluhur Nusantara setiap kali mereka makan—dan baru kini sains punya nama untuk fenomena tersebut.
Bukan Warisan Kolot, Ini Warisan Sensoris
Makan dengan tangan bukan kebiasaan yang lahir dari ketiadaan peralatan. Menurut Prof. Dr. Murdijati Gardjito, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Gadjah Mada, ini adalah cara makan asli masyarakat Jawa dan Sumatra yang berakar pada tradisi nasi bungkus jauh sebelum sendok dan garpu dikenal. Kata “garpu” sendiri berasal dari bahasa Portugis garfo—alat yang baru masuk ke Nusantara sekitar abad ke-16 bersama pedagang Eropa pencari rempah.
Dalam budaya Jawa kebiasaan ini disebut muluk. Di tanah Sunda ada tradisi makan nasi liwet di atas daun pisang, sementara masyarakat Minang mengenal ritual aia basuah—mencuci tangan sebelum dan sesudah makan—sebagai bagian tak terpisahkan dari tata cara bersantap.
Fase Sefalik: Saat Tangan Mempersiapkan Perut
Di sinilah sains masuk. Dalam fisiologi pencernaan, dikenal konsep cephalic phase of digestion (fase sefalik pencernaan): tubuh mulai memproduksi asam lambung, enzim pencernaan, dan hormon digestif sebelum makanan masuk ke mulut—dipicu oleh rangsangan sensoris berupa penglihatan, penciuman, rasa, dan sentuhan terhadap makanan. Saraf vagus menjadi jalur utama komunikasi antara otak dan sistem pencernaan dalam proses ini.
Sentuhan jari pada makanan—merasakan suhu, tekstur, dan kelembapannya—adalah bagian dari sinyal sensoris yang mengaktifkan fase ini. Dengan kata lain, tangan yang menyentuh makanan secara harfiah membantu mempersiapkan perut untuk mencerna lebih efisien.
Makan Lebih Lambat, Otak Lebih Sadar
Ada dimensi psikologis yang tidak kalah penting. Tinjauan sistematis terhadap 14 studi yang diterbitkan dalam jurnal Eating Behaviors (2014) menyimpulkan bahwa pendekatan mindful eating secara konsisten mengurangi binge eating dan makan emosional. Makan dengan tangan secara alami mendorong proses ini: jari-jari hanya bisa mengambil makanan dalam jumlah kecil sekaligus, memaksa seseorang memperlambat laju makan dan meningkatkan kesadaran akan rasa kenyang.



0 Komentar