“Gendang yang dipakai itu gendang turun-temurun,” kata Zakaria. “Dulu pemainnya bisa sampai 80 orang. Sekarang biasanya 20 sampai 25 orang.”

Gendang Beleq dikenal sebagai musik perkusi khas Lombok yang dalam sejarahnya kerap dikaitkan dengan penyemangat pasukan dan penyambutan prajurit. Dalam perkembangannya, kesenian itu juga menjadi bagian dari ekspresi budaya Sasak pada acara adat, penyambutan, dan pertunjukan pariwisata.

Bagi warga Sembalun, bunyi gendang besar itu bukan hanya atraksi bagi pengunjung. Ia menjadi pengingat bahwa rumah, tanah, dan kesenian berada dalam satu ekosistem budaya yang sama.

Pengakuan Tanah, Perlindungan yang Baru Dimulai

Di tengah kondisi fisik situs yang menua, Pemerintah Kabupaten Lombok Timur menerbitkan surat keputusan yang menetapkan Bale Beleq Sembalun Lawang sebagai tanah ulayat.

Penetapan tersebut juga mencakup kawasan Pesusa di Desa Sapit, Kecamatan Suela. Untuk Bale Beleq Sembalun, luas kawasan yang ditetapkan sekitar 28 are dan dibatasi pada kompleks rumah adat, tidak termasuk area perbukitan di sekitarnya.

Kepala Bidang Aset Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Lombok Timur, Abdul Basir, mengatakan penetapan itu merupakan respons atas permohonan masyarakat hukum adat.

“Setelah itu tidak boleh dicaplok lagi oleh siapa pun,” kata Abdul Basir, merujuk pada perlindungan kawasan adat setelah penetapan status tanah ulayat.

Keputusan tersebut memberi kepastian awal bagi masyarakat adat, meski perlindungan tidak berhenti pada penerbitan surat keputusan. Warga masih menghadapi pekerjaan lain yang lebih panjang: merawat rumah, merevitalisasi lumbung, menjaga keterampilan membangun dengan bahan lokal, serta memastikan generasi muda tetap merasa memiliki situs itu.

Senja turun perlahan di kaki Bukit Selong. Dari Bale Beleq, lereng-lereng Sembalun terlihat membentang menuju kawasan Rinjani.

Tujuh rumah itu mungkin tidak lagi utuh seperti dalam cerita para tetua. Tetapi pengakuan tanah ulayat memberi satu kesempatan penting: agar ingatan tentang kampung tua itu tidak ikut runtuh bersama ilalang yang mulai mengering di atas atapnya.***