Menjelang Ramadan, ketika wacana tentang kesalehan kembali menguat di ruang publik, pesan yang dibawa Syekh Muchtarulloh terasa relevan. Ibadah bukan sekadar menahan lapar, melainkan menahan diri dari abai terhadap penderitaan sekitar.
Pesantren, dalam tafsirnya, bukan menara gading. Ia adalah mata air—mengalirkan nilai, membasahi tanah sosial yang kering, dan menumbuhkan harapan. Dan di antara deretan rumah sederhana yang kini berdiri, tersimpan monumen sunyi dari sebuah visi besar: bahwa agama, ketika berpihak, dapat menjadi jalan kesejahteraan umat.***
Halaman


8 Komentar