Di tengah hitungan hari Ramadan, ribuan warga Thoriqoh Shiddiqiyyah memilih merayakan kemerdekaan bukan pada 17 Agustus semata, melainkan pada 9 dan 10 Ramadan—tanggal yang mereka yakini menyimpan denyut spiritual Proklamasi 1945.


KOSONGSATU.ID—Rabu dan Kamis, 25–26 Februari 2026 atau bertepatan dengan malam 9–10 Ramadan 1447 Hijriah, tasyakkuran kemerdekaan digelar serentak di berbagai daerah di Indonesia. 

Pusatnya berada di lingkungan Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathon Minal Iman, Losari, Ploso, Jombang—sebuah kompleks pesantren yang selama ini dikenal sebagai episentrum ajaran Hubbul Wathon Minal Iman, cinta tanah air sebagai bagian dari iman.

Perayaan ini memiliki pijakan tafsir sejarah yang berbeda dari arus utama. Jika negara menetapkan 17 Agustus sebagai momentum resmi berbasis kalender Masehi, Shiddiqiyyah merujuk pada penanggalan Hijriah. Tahun 1945, 17 Agustus bertepatan dengan 9 Ramadan dan jatuh pada Jumat Legi.

Bagi mereka, di situlah simpul spiritual kemerdekaan berada.

Tradisi Syukur Ganda

Dalam sambutan resmi, perwakilan Forum Shillaturrochmi Bersama Organisasi di Shiddiqiyyah (FOSHBOSH), Edi Setiawan, menyebut praktik ini sebagai tradisi yang unik.