Di Ploso, Jombang, zikir tak lagi berhenti di sajadah. Ia menjelma palu, paku, dan dinding rumah bagi warga yang tak mampu.
KOSONGSATU.ID — Di tengah perbincangan panjang tentang relasi agama dan negara, Thoriqoh Shiddiqiyyah menawarkan satu tesis yang tak banyak dipraktikkan secara konkret: bahwa cinta tanah air adalah bagian dari iman, dan iman menuntut kerja nyata.
Berpusat di Ploso, Jombang, Jawa Timur, thoriqoh ini memadukan tasawuf dengan nasionalisme dalam satu tarikan napas. Mereka menyebutnya sebagai pengejawantahan ajaran “Hubbul Wathon Minal Iman”—cinta tanah air sebagian dari iman—yang tidak berhenti sebagai slogan, melainkan bergerak menjadi program sosial yang terukur.
Bagi jamaah Shiddiqiyyah, kemerdekaan Indonesia bukan sekadar peristiwa historis 17 Agustus 1945. Ia adalah nikmat ilahiah, sebagaimana tertulis dalam Pembukaan UUD 1945: “Atas Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa.” Karena itu, menjaga dan mengisi kemerdekaan diposisikan sebagai ibadah syukur.
Salah satu manifestasi paling nyata dari ajaran itu adalah program Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah (RSLHS)—gerakan pembangunan rumah bagi warga kurang mampu di berbagai daerah. Program ini dijalankan secara gotong royong oleh jamaah, tanpa mengandalkan bantuan pemerintah.
“Ibadah sosial adalah wujud syukur atas kemerdekaan,” demikian yang kerap ditegaskan oleh Mursyid Thoriqoh Shiddiqiyyah, Syekh Muchammad Muchtarullohil Mujtaba Mu’thi dalam berbagai ceramahnya. Baginya, membangunkan rumah bagi fakir miskin bukan sekadar amal kebajikan, melainkan cara membayar utang budi pada tanah air.
Syukur yang Produktif
Dalam perspektif Shiddiqiyyah, nasionalisme bukan konsep abstrak yang dirayakan lewat seremoni semata. Ia harus diterjemahkan dalam aksi produktif. Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia, misalnya, diperlakukan layaknya hari raya keagamaan—momen syukur yang menuntut amal nyata.
Di sinilah letak pergeseran penting: zikir tidak hanya berupa lantunan asma Allah, tetapi juga kerja sosial. Setiap rumah yang dibangun menjadi simbol bahwa iman harus berdampak. Setiap paku yang ditancapkan diyakini sebagai bagian dari perjalanan spiritual seorang murid.




0 Komentar