Sunan Muria mengajarkan dakwah Islam lewat pelestarian alam dan pertanian berkelanjutan.
KOSONGSATU.ID—Sunan Muria dikenal sebagai wali yang menanamkan kesadaran menjaga alam melalui pendekatan ekoreligi. Dakwahnya tidak hanya menekankan aspek spiritual, tetapi juga mengajarkan bagaimana manusia hidup bersenyawa dengan lingkungan.
Di kawasan Muria, ajaran Islam disampaikan melalui praktik pertanian, pelestarian hutan, serta tradisi meruwat bumi. Nilai-nilai itu berpadu dengan kearifan lokal dan menjadi fondasi keseharian masyarakat hingga kini.
Pakis Haji, Inovasi Ramah Lingkungan
Salah satu inovasi Sunan Muria adalah pemanfaatan Pakis Haji, sejenis tanaman sikas, sebagai pengusir hama alami. Pendekatan ini berangkat dari prinsip keseimbangan ekologi dan keberpihakan pada penderitaan petani yang kerap gagal panen akibat serangan tikus.
Hingga hari ini, masyarakat di sekitar wilayah dakwah Sunan Muria masih mengenali kegunaan Pakis Haji secara turun-temurun. Selain berefek anti hama, tanaman ini dinilai aman bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
Pengetahuan Lokal yang Terbukti Ilmiah
Penelitian Hendro dkk. dalam Journal of Educational Social Studies (2012) mencatat bahwa petani di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus—wilayah dakwah Sunan Muria—meletakkan kulit Pakis Haji di sudut sawah. Tanaman tersebut diambil secukupnya dari hutan tanpa dibudidayakan berlebihan.
Secara ekologis, akar Pakis Haji mampu mengikat nitrogen dan membantu kesuburan tanah. Daunnya memiliki nilai gizi tinggi, sementara bagian lain dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Temuan ini menunjukkan praktik konservasi yang sejalan dengan prinsip keberlanjutan.
Sejalan dengan Riset Modern
Riset Narayanasami (2002) di India serta Amuwitagama (2002) di Sri Lanka membuktikan bahwa tanaman sikas, termasuk Pakis Haji, efektif mengusir hama padi. Aroma serbuk bunga jantan mampu membuat hama enggan mendekati area persawahan.
Temuan ilmiah ini menguatkan bahwa metode Sunan Muria merupakan bentuk awal konsep sustainable development. Hama tidak dimusnahkan secara ekstrem, melainkan dikendalikan agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Lima Fondasi Tasawuf Lingkungan
Dalam buku Napak Jejak Pemikiran Sunan Muria (2014), Widi Muryono merumuskan lima fondasi ajaran lingkungan Sunan Muria: tauhid lingkungan, fikih lingkungan, tasawuf lingkungan, filanekoreligi, dan akidah muttahidah.
Konsep ini menegaskan relasi segitiga antara Allah, manusia, dan alam. Ibadah tidak berhenti pada ritual mahdlah, tetapi juga mencakup tanggung jawab menjaga lingkungan sebagai amanah Ilahi.
Tradisi Meruwat Bumi
Tim Ekspedisi Tirtamuria (Oktober 2025) menemukan praktik ajaran Sunan Muria masih dijalankan di Japan (Rejenu), Gondoharum, Rahtawu, dan Colo. Tradisi meruwat bumi dipahami sebagai upaya kolektif melindungi alam dan memastikan keberlanjutan sumber daya.
Kesadaran ini menempatkan penghijauan sebagai bagian dari ketahanan pangan, ekonomi, dan mitigasi bencana seperti longsor serta kekeringan.
Pitutur Alam dan Ketahanan Pangan
Sunan Muria juga meninggalkan pitutur luhur agar manusia tidak melukai alam. Prinsip itu membentuk keyakinan petani Muria bahwa tanah yang hijau dan subur akan menjamin kecukupan pangan.
Penghijauan dipandang bukan sekadar menjaga ekosistem, tetapi juga melindungi mata air dan kehidupan generasi mendatang.




Tinggalkan Balasan