Relevansi di Tengah Krisis Lingkungan
Di tengah krisis lingkungan—perubahan iklim, banjir, longsor, kekeringan, dan degradasi ekosistem—ajaran para wali menemukan relevansinya kembali. K.H. Sahal Mahfudh menegaskan bahwa fikih harus mampu menjawab realitas sosial dan ekologis umat. Tanggung jawab terhadap lingkungan bukan pelengkap, melainkan inti dari keberagamaan.
Warisan Sunan Giri memberi pelita: bahwa iman tidak hanya mengarah pada surga eskatologis, tetapi juga menuntut upaya mewujudkan “surga ekologis” di bumi. Islam Nusantara yang dirawat para wali adalah Islam yang memuliakan alam—sebab merawat bumi berarti merawat amanah Tuhan.***
Halaman


Tinggalkan Balasan