Sunan Giri menanamkan fikih lingkungan, menjadikan Islam Nusantara selaras dengan alam.

KOSONGSATU.ID–Dalam tradisi Wali Songo, dakwah Islam di Nusantara tidak berhenti pada pengajaran tauhid dan syariat ibadah. Para wali juga menanamkan etika hidup yang menyentuh relasi manusia dengan alam. Kesadaran ekologis—yang hari ini disebut fiqh al-bī’ah (fikih lingkungan)—telah menjadi bagian integral dari praktik keberagamaan mereka.

Salah satu figur kunci dalam hal ini adalah Sunan Giri. Dalam konteks masyarakat Nusantara yang agraris dan maritim, Sunan Giri mengajarkan bahwa Islam hadir bukan untuk menggusur atau mengeksploitasi alam, melainkan merawat dan memuliakannya. Kesadaran ekologis itu dipadukan dengan spiritualitas sufistik dan kearifan lokal, lalu diterjemahkan ke dalam praktik hidup sehari-hari.

Al-Qur’an sendiri menegaskan relasi etis manusia dengan bumi. Q.S. Al-A’raf ayat 56 menyatakan: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” Ayat ini menegaskan bahwa keberagamaan kehilangan maknanya jika tidak disertai tanggung jawab ekologis. Spirit inilah yang ditangkap Sunan Giri dan diwujudkan dalam tata kehidupan masyarakat Giri Kedaton.

Giri Kedaton: Spiritualitas, Kekuasaan, dan Ekologi

Giri Kedaton yang didirikan Sunan Giri bukan sekadar pusat keagamaan, melainkan juga pusat pemerintahan dan peradaban dengan wawasan ekologis. Sejumlah manuskrip dan kajian sejarah mencatat bahwa Giri Kedaton memiliki sistem kehidupan mandiri, adaptif, dan berkelanjutan—baik dalam aspek dakwah, militer, maupun tata kelola sumber daya alam (Agus Sunyoto, 2016).

Masyarakat Giri hidup selaras dengan lingkungan. Tata ruang permukiman menyesuaikan kondisi geografis seperti aliran sungai dan arah angin. Praktik gotong royong menjadi dasar pengelolaan air, hutan, dan lahan pertanian. Pola ini mencerminkan implementasi ajaran khalīfah fī al-arḍ—manusia sebagai pemimpin yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan bumi.

Tradisi lokal seperti sedekah bumi dan larung laut tidak dihapus atau dicap menyimpang. Sunan Giri justru memaknainya sebagai ungkapan syukur atas karunia Allah melalui alam. Ritus-ritus itu menjadi jembatan antara spiritualitas Islam dan kesadaran ekologis yang kontekstual.