Dakwah Budaya dan Pendidikan Alam
Untuk menanamkan nilai-nilai tersebut, Sunan Giri menggunakan pendekatan pendidikan, budaya, dan keteladanan sosial. Islam diajarkan sebagai etika hidup yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk relasinya dengan tanah, air, dan udara.
Sejarawan Azyumardi Azra mencatat bahwa Islamisasi Nusantara berlangsung damai, adaptif, dan berbasis kearifan lokal (Azra, 2004). Dalam kerangka ini, Sunan Giri menjadi simbol bagaimana Islam dapat mengakar kuat tanpa mencabut akar budaya dan ekologi masyarakatnya. Model keberagamaan ini sederhana dan membumi, namun sarat kedalaman spiritual—sebagaimana dicatat Sahal Mahfudh dalam gagasan fikih sosialnya.
Nilai-nilai ekologis juga disemai melalui tembang dan dolanan anak-anak. Tembang Ilir-ilir—meski kerap dikaitkan dengan Sunan Kalijaga—hidup subur di jaringan pesantren Giri. Frasa “tandure wus sumilir” menggambarkan kesuburan tanaman dan kesadaran musim tanam. Syair ini berfungsi sebagai pendidikan alam, sekaligus refleksi spiritual.
Demikian pula tembang cublak-cublak suweng. “Suweng” melambangkan harta tersembunyi, mengajak anak-anak memahami bahwa nilai sejati tidak selalu tampak kasat mata. Dalam tafsir ekoteologis, kekayaan alam adalah “suweng” kehidupan yang hanya terjaga jika keseimbangan dihormati. Ketika manusia rakus mengeksploitasi alam, “gudel” yang terusir menjadi metafora kerusakan ekologis akibat keserakahan.
Spiritualitas Alam dan Etika Batas
Sunan Giri tidak memisahkan urusan spiritual dari alam. Dalam tradisi lisan masyarakat Gresik, ia dikenal peka terhadap tanda-tanda alam, termasuk dalam menentukan lokasi Giri Kedaton. Kepekaan ini bersifat ekologis sekaligus spiritual: alam dipahami sebagai manifestasi rahmat Tuhan.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Ibn Arabi, yang memandang seluruh makhluk sebagai tajallī—penampakan sifat-sifat Ilahi. Merusak alam berarti melukai kehadiran Ilahi dalam wujud lain. Karena itu, eksploitasi berlebihan dipandang sebagai bentuk kezaliman: terhadap manusia, alam, dan Tuhan.
Ajaran Sunan Giri menegaskan bahwa keberagamaan sejati adalah keberagamaan yang membumi: menjaga tanah, merawat air, dan menghormati udara yang dihirup. Tradisi sedekah bumi, larung laut, serta penghormatan terhadap hutan dan sumber air menjadi wujud nyata dari spiritualitas ekologis yang teruji oleh zaman.




Tinggalkan Balasan