​Pemikiran sufisme Ki Hadjar tampak jelas saat ia menjelaskan hubungan tak terpisahkan antara syariat dan hakikat. Dalam orasi ilmiah Doctor Honoris Causa yang termaktub dalam buku Masalah Kebudayaan, ia mengutip doktrin sufisme yang tegas: “Syariat tanpa hakikat adalah kosong, sebaliknya hakikat tanpa syariat adalah batal.”

​Ia memperkuat argumennya dengan merujuk pada Serat Sastra Gending karya Sultan Agung Mataram. Ki Hadjar melukiskan sastra sebagai hakikat dan gending sebagai syariat. Sultan Agung menuliskan, “Pramila gending yen bubrah, Gugur sembahe mring Widdhi…” yang bermakna bahwa apabila gending (syariat) rusak, maka batal pula peribadatan kepada Tuhan. Irama yang agung berfungsi untuk memuji Dzat hingga mengendap ke dalam sukma.

​Bagi Ki Hadjar, manusia terdiri dari substansi jasmaniah dan rohaniah. Ia menempatkan manusia tidak sekadar dalam hubungan vertikal dengan Sang Pencipta, tetapi juga menyatu dengan alam. Manusia bergumul antara kodrat (kuasa alam) dan iradat (kehendak diri), menciptakan harmoni kehidupan.

​Tahapan Pendidikan Berbasis Tasawuf

​Pemahaman sufistik tersebut tidak hanya berhenti pada tataran filosofis. Ki Hadjar mengintegrasikan ajaran tasawuf ke dalam psikologi perkembangan anak, membaginya menjadi tiga periode pendidikan utama:

  • Masa Kanak-kanak (Usia 0-8 Tahun): Metode Syariat

Fase ini sangat fundamental karena pengaruh luar akan membentuk dasar karakter anak. Pendidik menggunakan metode syariat melalui pemberian contoh teladan (voorbeeld) dan pembiasaan sehari-hari (pakulinan). Anak berlatih mengikuti norma umum sebagai fondasi awal.

  • Masa Muda (Usia 8-16 Tahun): Metode Hakikat

Fokus pendidikan mulai bergeser pada perkembangan daya pikir dan intelektual. Pendidik menerapkan metode pengajaran, perintah, hingga hukuman yang mendidik. Metode hakikat ini bertujuan membangkitkan kesadaran (insyaf) siswa terhadap kebenaran dan kebaikan berdasarkan ilmu pengetahuan.

  • ​Masa Dewasa (Usia 16-24 Tahun): Metode Tirakat dan Makrifat

Pada masa ini, siswa mempraktikkan pengalaman lahir dan batin. Pendidik melatih siswa melakukan tirakat (tarikat), yakni membiasakan diri melakukan kebaikan—seperti aksi sosial—meskipun terasa berat. Puncaknya adalah makrifat, yaitu pemahaman mendalam tentang etika, agama, filsafat, dan budaya untuk mencapai kedamaian jiwa.

​Merajut Kodrat Alam dan Kemanusiaan

​Konsepsi pendidikan Ki Hadjar Dewantara pada dasarnya adalah pendidikan yang memanusiakan manusia secara holistik. Ia merancang metode Syariat, Hakikat, Tirakat, dan Makrifat agar siswa dapat menyatu (manunggaling) dengan kodrat alam.