Pendidikan Ki Hadjar Dewantara sarat nilai sufistik. Ia memadukan harmoni syariat hingga makrifat untuk membentuk karakter bangsa.


KOSONGSATU. ID – Gagasan luhur yang mengakar pada spiritualitas ini nyatanya bukanlah sekadar catatan sejarah masa lampau, melainkan sebuah peta jalan kebangsaan yang melampaui zamannya.

Warisan pemikiran berbasis tasawuf tersebut justru menemukan momentum urgensinya saat ini, berfungsi sebagai jangkar penyeimbang manakala arus modernisasi yang masif rentan menggerus moralitas dan kedalaman jiwa generasi penerus.

​Relevansi Nilai Kebajikan di Era Modern

​Dunia pendidikan masa kini menghadapi tantangan besar menyambut era Society 5.0. Generasi muda berlomba menguasai teknologi mutakhir, tetapi di saat bersamaan, banyak yang mulai mengabaikan nilai kebajikan, karakter, dan budi pekerti.

Menggali kembali pemikiran Ki Hadjar Dewantara menjadi langkah krusial untuk menjawab persoalan moral ini. Sang maestro berhasil memadukan ilmu pengetahuan multidisiplin dengan kearifan lokal Indonesia, menciptakan kerangka pendidikan karakter yang mengakar kuat pada realitas sosial dan budaya Nusantara.

​Jejak Langkah Sang Maestro Pendidikan

​Sebelum menyelami dimensi sufistiknya, kita perlu menengok sejenak perjalanan hidup tokoh kelahiran Yogyakarta, 2 Mei 1889 ini. Lahir dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat, cucu Paku Alam III ini mengubah namanya pada usia 40 tahun agar lebih leluasa berbaur dengan rakyat tanpa sekat kebangsawanan.

​Sejak kecil, ia menyaksikan langsung kekejaman kolonial Belanda. Pengalaman menempuh pendidikan di sekolah Belanda (1903-1909) dan perkenalannya dengan Douwes Dekker membawanya masuk ke ranah pergerakan politik melalui Indische Partij. Sikap kritisnya berujung pada pengasingan ke Belanda.

Namun, masa pembuangan ini justru membuka matanya. Ia menyadari bahwa pendidikan “kolonial” hanya cocok untuk anak-anak Belanda. Indonesia membutuhkan pendidikan nasional yang selaras dengan konteks kulturalnya.

​Sebagai wujud nyata dari gagasannya, ia mendirikan Perguruan Taman Siswa pada 3 Juli 1922. Melalui sistem among, ia menolak gaya pendidikan otoriter maupun permisif. Pendidik harus memegang prinsip tut wuri handayani—mendorong dari belakang agar murid mampu mengambil keputusan bebas (value judgement) dan tumbuh menjadi manusia merdeka.

​Akar Religius dan Harmoni Sastra Gending

​Di balik kemasyhurannya sebagai arsitek pendidikan, Ki Hadjar menyimpan pemikiran sufistik yang mendalam. Akar religius ini tumbuh sejak dini. Ayahnya, Paku Alam III, membimbingnya dengan nilai-nilai Islam dan seni tradisional Jawa. Ia bahkan pernah nyantri di Pondok Pesantren Kalasan di bawah asuhan Kiai Soleman Abdurrahman.