Mengapa Sensitif?
Mengapa kuota haji begitu sensitif? Karena di sanalah uang besar berputar. Dari biaya perjalanan, asuransi, hingga santunan kematian. Tahun ini, enam jemaah embarkasi Surabaya yang wafat di pesawat saja, masing-masing ahli warisnya menerima santunan tambahan Rp130 juta di luar santunan reguler.
Angka semacam ini tentu menggiurkan bagi para pemburu rente. Dan jika benar ada oknum yang bermain, tidak heran nama NU dipakai sebagai papan nama untuk melancarkan kepentingan.
Yang paling dirugikan tetaplah jamaah. Warga Nahdliyin menabung bertahun-tahun demi menunaikan rukun Islam kelima, kini harus menyaksikan organisasi yang mereka banggakan terseret ke pusaran skandal. Di satu sisi, PBNU berulang kali menegaskan bahwa kasus ini ulah oknum, bukan lembaga. Di sisi lain, KPK dituding lambat, seolah ada tarik-ulur kepentingan politik.
Pertanyaan yang kini menggantung jelas: siapa cari makan di PBNU? Apakah staf nakal, pengurus yang gelap mata, atau politisi yang menunggangi? Apa pun jawabannya, NU tidak boleh dijadikan tameng. Organisasi sebesar ini tak layak dipermalukan hanya karena ada pihak yang menjadikannya mesin rente.
KPK pun dituntut bergerak cepat. Semakin lama main tempo, semakin besar pula kecurigaan publik. Marwah NU kini dipertaruhkan—apakah ia sanggup menjaga kehormatan, atau justru membiarkan namanya jadi bancakan politik kuota haji.***



Tinggalkan Balasan