Para ahli menegaskan sawit tak bisa gantikan hutan usai banjir besar Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
KOSONGSATU.ID—Pagi setelah banjir bandang menghantam Sumatera Bagian Utara, warga masih mencari keluarga yang hilang di antara lumpur dan batang-batang kayu yang hanyut. Di tengah kepanikan itu, muncul kembali satu suara lama: hutan yang hilang.
Dalam pidatonya pada Musrenbang 30 Desember 2024, Presiden Prabowo Subianto mempertanyakan anggapan bahwa perkebunan kelapa sawit menyumbang deforestasi. “Namanya kelapa sawit ya pohon, ya kan?” ujarnya. Pernyataan itu langsung memantik kritik dari para aktivis dan ahli lingkungan.
Mereka menegaskan bahwa sebanyak apa pun jumlah pohon sawit, ia tak pernah bisa disebut hutan. Perkebunan monokultur, kata mereka, adalah ekosistem yang miskin kehidupan.
Hutan Tak Sama dengan Kebun Sawit
Wong Ee Lynn, penulis untuk National Geographic Indonesia, menjelaskan bahwa hutan alam memiliki keragaman hayati yang menciptakan keseimbangan ekologis. Sebaliknya, lahan sawit hanya berisi satu jenis tanaman dalam jumlah besar.
“Perkebunan monokultur harus menggunakan herbisida, insektisida, dan pupuk sintetis dalam jumlah besar untuk meniru cara alam melindungi tanaman,” tulisnya.
Ketergantungan kimia itu, lanjutnya, merusak tanah, mematikan organisme bermanfaat, dan membuat hama kebal. Ekosistem runtuh pelan-pelan tanpa kehadiran keanekaragaman hayati yang menjaga siklus alam tetap stabil.
Erosi, Air Hilang, dan Siklus Banjir Baru
Salah satu kerusakan paling fatal terjadi pada tanah. “Tanaman penutup tanah dihilangkan, sehingga tak ada perlindungan alami terhadap erosi,” ungkap Lynn.
Ketika tanah kehilangan lapisan organiknya, air hujan tak lagi meresap, melainkan mengalir liar dan menghantam permukiman sebagai limpasan permukaan.
Sawit juga dikenal boros air. Tanpa struktur tanah hutan yang mampu menahan kelembaban, perkebunan memerlukan irigasi besar-besaran.
“Hutan meningkatkan kualitas air dengan meminimalkan erosi dan menyaring polusi,” jelas Lynn. Perkebunan sawit justru menguras dan berpotensi mencemari sumber air.
Fiona McAlpine dari The Borneo Project menegaskan bahwa “monokultur industri ini tidak ada apa-apanya dibandingkan harmoni ekologis hutan asli.” Keanekaragaman hayati yang hilang tak bisa digantikan sekadar dengan menanam pohon produksi.
Batang Toru: Hulu yang Luka, Hilir yang Menderita
Di Sumatera Utara, WALHI melihat kerusakan itu dari dekat.
Jaka Damanik, Manajer Advokasi WALHI Sumut, menyebut ekosistem Batang Toru—hutan tropis terakhir di provinsi itu—mengalami deforestasi 30 persen dalam lima tahun.
“Memang ada warga yang menebang, tapi bukan mereka penyumbang terbesar,” ujarnya. Menurut Jaka, perusahaan tambang, perkebunan, dan proyek energi seperti PLTA adalah aktor utama yang membuka lahan dalam skala besar.
Saat banjir besar datang, air membawa kabar dari hulu: hutan yang hilang, tanah yang tergerus, dan ekosistem yang runtuh. Foto udara perkebunan sawit di Sumatera—seluas 7,9 juta hektare—hanya menguatkan skala persoalan yang dihadapi.
Pada bentang yang seragam dan teratur itu, hutan tampak tinggal garis tipis yang menyingkir jauh ke tepi.***




Tinggalkan Balasan