Di balik doa-doa yang mengalir dalam kitab Dalailul Khairat, tersembunyi jejak para wali yang menyulam cinta kepada Rasulullah Saw. hingga menembus batas ruang dan zaman. Dari puncak Jabal Qubais di Mekkah, warisan ruhani itu tiba di Ploso, Jombang—menetap dalam genggaman seorang alim yang tak banyak disebut: KH. Abdul Mu’thi. Sanad yang sunyi, namun tak terputus. Sebuah cahaya yang terus menyala dalam diam.
KOSONGSATU.ID–Kitab Dalailul Khairat dikenal luas di kalangan pesantren. Kitab ini ditulis oleh Imam Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli, ulama besar asal Marakesy, Maroko.
Dalam tradisi sanad di pesantren-pesantren Nahdlatul Ulama (NU), kitab ini tersambung melalui nama-nama besar: Syekh Mahfudz al-Termasi dari Pacitan, Syekh Yasin al-Fadani dari Mekkah, dan Kiai Dalhar Watucongol dari Magelang.
Namun ada satu nama penting yang jarang disebut. Ia adalah KH. Abdul Mu’thi dari Ploso, Jombang. Ulama tarekat ini juga dikenal sebagai guru Sukarno di masa kecil. Beliau wafat pada tahun 1367 Hijriah. Dan beliau juga memegang sanad Dalailul Khairatlangsung dari sumbernya.
Fakta tersebut diungkapkan oleh Mursyid Shiddiqiyyah, Syekh Moch. Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi—atau yang di kalangan umum biasa disapa Yai Tar—saat Haul Leluhur Mursyid Tarekat Shiddiqiyyah, April 2025 lalu. Acara tersebut untuk mengenang Kiai Abdul Mu’thi dan istrinya, Nyai Siti Nasichah, serta Haji Ismail dan Hajjah Maimunah, sahabat dekat keluarga.
Dalam acara itu, Yai Tar menunjukkan kitab Dalailul Khairat warisan ayahnya. Kitab itu, kata Yai Tar, dipelajari langsung oleh Kiai Abdul Mu’thi di Jabal Qubais, Mekkah. Haji Ismail, kerabat Kiai Abdul Mu’thi, bahkan berpesan agar kitab itu kelak diberikan kepada Yai Tar. Supaya terus dibawa dan dijaga.
“Kitab ini bukan sembarang kitab,” ujar Yai Tar. “Selain isinya asli, tidak berubah, hanya tiga orang Indonesia yang pernah menyelesaikannya langsung di Mekkah. Kiai Abdul Mu’thi, Kiai Termas, dan Kiai Dalhar. Setelah itu, sanadnya ditutup,” terang Sang Mursyid.
Kitab Dalailul Khairat adalah kumpulan salawat dan doa-doa untuk Nabi Muhammad Saw. Judul lengkapnya: Dalailul Khayraat Wa Shawaariqul Anwar fi Zikris Shalaati Alan Nabiyyil Mukhtaar. Artinya, Tanda-Tanda Kebaikan dan Cahaya Gemilang dalam Mengingat Salawat kepada Nabi Pilihan.

Kitab ini terkenal di dunia Islam. Dibaca di Afrika Utara, Syam, Turki, Asia Selatan, hingga Nusantara. Di Indonesia, kitab ini dikenal dengan sebutan Dalail. Ia jadi bagian penting dalam tradisi tasawuf. Dibaca sebagai amalan, hizib, juga lantunan keberkahan.
Sejak ratusan tahun lalu, Dalailul Khairat sudah hidup dalam budaya Islam Nusantara. Dari Aceh hingga Sulawesi. Dari surau sampai pesantren. Bahkan di Aceh, kitab ini jadi bagian dari seni. Dikenal dengan sebutan “berdalae” atau “dalam berdalail.”
Tradisi ini tumbuh kuat. Dibaca rutin. Dirayakan dalam musabaqah saat maulid Nabi. Jadi budaya dan identitas.
Siapa yang pertama kali membawa kitab ini ke Indonesia, tak diketahui pasti. Namun, sejak abad ke-17, Dalailul Khairatsudah hidup di Aceh. Diajarkan di dayah, meunasah, dan masjid-masjid.
Bisa jadi, kitab ini juga akrab di kalangan para sarjana muslim awal Nusantara. Seperti Hamzah Fansuri, Abdurrauf as-Singkili, Syamsuddin as-Sumaterani, atau Nuruddin ar-Raniri.
Bahasanya indah. Isinya penuh cinta kepada Rasul. Dan sejarahnya terus hidup, diwariskan dari hati ke hati. Termasuk lewat tangan Kiai Abdul Mu’thi dari Ploso—salah satu penjaga rantai sanad yang nyaris terlupakan.***




Tinggalkan Balasan