Kitab Dalailul Khairat karya Ulama Maroko  Imam Muhammad bin Sulaiman al Jazuli  ash Syadzili. — FOTO: mahasiswaindonesia.id

Kitab ini terkenal di dunia Islam. Dibaca di Afrika Utara, Syam, Turki, Asia Selatan, hingga Nusantara. Di Indonesia, kitab ini dikenal dengan sebutan Dalail. Ia jadi bagian penting dalam tradisi tasawuf. Dibaca sebagai amalan, hizib, juga lantunan keberkahan.

Sejak ratusan tahun lalu, Dalailul Khairat sudah hidup dalam budaya Islam Nusantara. Dari Aceh hingga Sulawesi. Dari surau sampai pesantren. Bahkan di Aceh, kitab ini jadi bagian dari seni. Dikenal dengan sebutan “berdalae” atau “dalam berdalail.”

Tradisi ini tumbuh kuat. Dibaca rutin. Dirayakan dalam musabaqah saat maulid Nabi. Jadi budaya dan identitas.

Siapa yang pertama kali membawa kitab ini ke Indonesia, tak diketahui pasti. Namun, sejak abad ke-17, Dalailul Khairatsudah hidup di Aceh. Diajarkan di dayah, meunasah, dan masjid-masjid.

Bisa jadi, kitab ini juga akrab di kalangan para sarjana muslim awal Nusantara. Seperti Hamzah Fansuri, Abdurrauf as-Singkili, Syamsuddin as-Sumaterani, atau Nuruddin ar-Raniri.

Bahasanya indah. Isinya penuh cinta kepada Rasul. Dan sejarahnya terus hidup, diwariskan dari hati ke hati. Termasuk lewat tangan Kiai Abdul Mu’thi dari Ploso—salah satu penjaga rantai sanad yang nyaris terlupakan.***