Sebelum Tebuireng ada, seorang pejuang laskar Diponegoro sudah lebih dulu membuka rawa, membangun pesantren, dan mengubah utara Jombang jadi pusat peradaban Islam.


KOSONGSATU.ID — Jombang punya dua wajah yang jarang disandingkan secara jujur. Selatan dikenal: Tebuireng, Tambakberas, KH Hasyim Asy’ari—nama-nama yang mengisi buku teks sejarah Islam Indonesia. Utara nyaris tak disebut. Padahal di situlah cerita pesantren Jombang sesungguhnya bermula.

Sebelum Tebuireng, Ada Rawa yang Dikeringkan

Sekitar tahun 1850-an, KH Ahmad Syuhada—prajurit laskar Pangeran Diponegoro—merintis sebuah pesantren bernama Kedungturi di Desa Losari, Kecamatan Ploso, Jombang Utara. Ketika itu wilayah Losari masih berupa rawa-rawa liar yang luas.

Di tangan Mbah Syuhada dan adiknya Abdullah, lahan itu dibuka, dikeringkan, dan diubah menjadi perkampungan yang hidup. Tempat mengajar yang awalnya hanya berupa rumah tinggal dan langgar itu dinamakan “Pesantren Dungturi”—karena tanah bekas rawa (kedung) itu banyak ditanami pohon turi.

Pesantren Tebuireng baru berdiri pada 3 Agustus 1899 dan diakui secara resmi oleh Pemerintah Belanda pada 6 Februari 1906. Artinya, ketika KH Hasyim Asy’ari mulai mengajar dengan delapan santri pertama di sebuah bangunan bambu berukuran 6×8 meter, Pesantren Kedungturi di Losari sudah berdiri selama empat dekade.

Pejuang yang Tak Menyerah Usai Perang

Kehadiran Mbah Syuhada di Losari bukan kebetulan. Pangeran Diponegoro ditangkap dalam sebuah pertemuan perundingan di Magelang pada 28 Maret 1830 dan diasingkan ke Makassar, tempat ia akhirnya wafat pada 8 Januari 1855. Para pengikutnya menolak menyerah begitu saja.

Dua tahun pasca penangkapan, maklumat 1832 berisi instruksi bagi laskar Pangeran Diponegoro untuk menyebar ke penjuru Nusantara—termasuk ke Jombang, yang dipilih karena lokasinya sebagai bekas pusat imperium Majapahit dan cukup strategis untuk membangun basis perlawanan.

Pola yang digunakan rombongan laskar adalah hijrah secara berkelompok; di beberapa lokasi singgah, salah satu anggota memilih menetap untuk membuka lahan dakwah baru (babat alas), sementara yang lain meneruskan perjalanan.

Mbah Syuhada memilih Losari. Di sanalah ia menetap, membuka rawa, dan mendirikan pusat pendidikan Islam yang menjadi akar peradaban utara Jombang.