Gambar langgar panggung tempat Soekarno kecil mengaji di Pesantren Kedungturi (sekarang bernama Pesantren Majma’al Bachroin Chubbul Wathan Minal Iman Shiddiqiyyah Ploso, Jombang). – Ilustrasi AI Generate

Sejarah Bahkan Menyentuh Silsilah Tebuireng

Yang menarik, garis sejarah antara utara dan selatan Jombang bukan sekadar paralel—melainkan saling bersentuhan. Kiai Asy’ari, ayah KH Hasyim Asy’ari, sejak muda belajar di Pesantren Nggedang di kawasan utara kota Jombang, dekat Tambakberas, di bawah asuhan Kiai Usman yang dikenal sebagai ahli tarikat.

Dari berguru itulah Kiai Asy’ari kemudian menikah dengan putri sang guru, Halimah, dan dari pernikahan itu lahirlah, antara lain, Muhammad Hasyim—yang kelak dikenal dunia sebagai KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.

Jadi, bahkan keluarga besar Tebuireng sendiri berakar pada tradisi keilmuan yang tumbuh di sisi utara kota.

Nama Kota yang Lahir dari Tongkat Seorang Pejuang

Warisan Mbah Syuhada tak hanya berupa pesantren. Menurut tradisi lisan yang dijaga keturunan Thoriqoh Shiddiqiyyah, Mbah Syuhada sendiri yang memberi nama kota Ploso—ditandai dengan penanaman pohon ploso, yang kini tempatnya berada tepat di depan Pasar Ploso.

Sebuah kota yang hari ini dikenal jutaan orang Jawa Timur ternyata menyimpan nama seorang prajurit klandestin yang tak pernah muncul di buku pelajaran mana pun.

Mengembalikan yang Terlupakan

Sejarah tidak selalu ditulis oleh mereka yang paling awal berjuang—melainkan oleh mereka yang paling berhasil mendominasi dokumentasi resmi. Kisah Pesantren Kedungturi bukan sekadar koreksi kronologis.

Ia adalah pengingat bahwa di balik nama-nama besar yang mengisi narasi tunggal, ada tokoh-tokoh klandestin yang membabat alas lebih dulu, mengalirkan ilmu lebih dahulu, dan membayar harga paling mahal tanpa pernah dikenang. Sudah saatnya utara Jombang mendapat tempat yang layak dalam sejarah pesantren Indonesia. ***