Bahasa Kuno sebagai “Kode” AI

Pakar teknologi informasi Prof. Eko Indrajit menilai, apa yang disampaikan Prof. Manu membuka wawasan baru tentang hubungan antara bahasa dan kecerdasan buatan.

“Bahasa yang disebut primitif itu justru memperlihatkan keadaban. Potensinya jauh lebih besar daripada sekadar untuk kebutuhan AI,” ujar Prof. Eko.

Menurutnya, bahasa Sanskerta bisa berfungsi bukan hanya sebagai alat komunikasi manusia, tapi juga sebagai sistem sandi atau bahasa tingkat tinggi untuk berinteraksi dengan mesin. “Bahasa ini efisien, sistematis, dan kaya gramatikal. Ia bisa menjadi jembatan antara instruksi manusia dan mesin komputer,” jelasnya.

Ilustrasi.

Nusantara, Pusat Peradaban Pengetahuan

Dicky Zainal Arifin atau Kang Dicky Nusantara pernah menyebut adanya Prasasti Diransa Buaya yang menandakan peradaban besar bermula dari Nusantara. Pendapat ini sejalan dengan kesaksian Frank Joseph Hofl, asisten mendiang Arysio Santos—penulis buku Atlantis: The Lost Continent Finally Found—yang meyakini bahwa sumber peradaban dunia berasal dari kawasan Asia Tenggara, terutama Indonesia.

“Saya percaya bahwa peradaban dunia, lahirnya peradaban, berasal dari Indonesia,” tegasnya.

Jika Silicon Valley membangun mesin dengan otak, manusia Nusantara membangun mesin dengan hati. Di Barat, AI dipakai untuk efisiensi. Di Timur, AI diciptakan untuk keberkahan.

Bagi leluhur kita, kecerdasan buatan bukanlah cara menyaingi Tuhan, melainkan cara mengingat-Nya.***