Eduventure menyoroti kejenuhan metode belajar dan minimnya akses literasi di wilayah 3T, lalu menawarkan modul luring, pelacakan belajar, dan dasbor guru.


KOSONGSATU.ID – Mahasiswa Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Muhammad Maulana, menggagas Eduventure, aplikasi pendidikan yang berangkat dari temuan tentang kejenuhan metode belajar dan keterbatasan literasi siswa di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T.

Dalam rilis resmi Unair, gagasan itu dipresentasikan Maulana dalam forum Changemaker Youth ASEAN Excursion di Singapura dan Malaysia pada 6–10 April 2026. Maulana mendapat penghargaan lantaran karyanya itu.

Penghargaan yang ia bawa pulang memang penting, tetapi inti gagasannya terletak pada persoalan akses belajar.

“Melihat kondisi tersebut, kami merancang Eduventure dengan memadukan akses pendidikan dan sisipan elemen gim agar pembelajaran terasa lebih menarik sekaligus menantang,” kata Maulana, dikutip dari Unair, Sabtu (18/4/2026).

Muhammad Maulana. HUMAS UNAIR

Modul Luring untuk Daerah Pelosok

Untuk menjawab hambatan koneksi internet di wilayah pelosok, Eduventure dirancang dengan fitur digitalisasi modul luring. Skemanya, bahan bacaan dari perpustakaan di kota besar dipindai lalu ditransfer agar dapat diakses siswa tanpa bergantung pada jaringan internet.

“Kami membuat sistem pemindaian di mana buku-buku dari perpustakaan di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya difoto dan ditransfer. Sehingga, modul tersebut bisa diakses secara offline oleh siswa di daerah seperti sekitar wilayah Papua,” ujar Maulana, 17 April 2026.

Selain modul luring, Eduventure juga memuat fitur pelacakan perkembangan belajar siswa, dasbor pencapaian untuk guru, serta konsultasi berbasis kecerdasan buatan. Menurut rilis Unair, fitur itu ditujukan untuk membantu guru membaca kemampuan murid dari tingkat dasar hingga menengah.

Belajar Tak Lagi Bergantung Internet

Temuan utama dalam gagasan ini ialah bahwa persoalan pendidikan di daerah 3T bukan semata kekurangan bahan ajar, melainkan juga kejenuhan metode belajar dan terbatasnya akses literasi yang relevan. Karena itu, Eduventure tidak hanya menawarkan konten, tetapi juga cara belajar yang lebih interaktif.