Kelangkaan plastik mendorong BRIN mempercepat riset kemasan berbahan serat alam dan bioplastik untuk menekan ketergantungan pada produk petrokimia.


KOSONGSATU.ID — Gangguan pasokan bahan baku kimia global di tengah konflik Asia Barat menimbulkan masalah serius bagi masyarakat yang kadung tergantung pada plastik sekali pakai.

Kebutuhan terhadap kemasan alternatif pun menguat.

Apalagi, di sisi lain, besarnya beban sampah plastik nasional saat ini juga menjadi persoalan lingkungan serius. Data SIPSN menunjukkan, timbulan sampah Indonesia pada 2024 mencapai 33,79 juta ton, di mana plastik menyumbang 19,64 persen dari total komposisi sampah.

Serat alam mulai dilirik

Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN pun mulai mendorong jalan keluar dari bahan-bahan yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

Periset BRIN Sukma Surya Kusumah menjelaskan, timnya mengembangkan wadah makanan dari pelepah pisang dan serat lignoselulosa lain seperti pelepah pinang, serat nanas, kenaf, hingga jagung.

Food container berbasis pelepah pisang sangat aman untuk produk-produk kering,” kata Sukma, dikutip dari publikasi yang merujuk keterangan BRIN, 4 Maret 2025. 

Menurut Sukma, bahan-bahan itu menarik karena mudah didapat, lebih cepat terurai, dan membuka nilai tambah dari limbah pertanian yang selama ini kerap terbuang.

Namun, tantangannya masih ada, terutama pada daya tahan terhadap cairan dan kekuatan pakai jika dibandingkan dengan plastik konvensional.

Karena itu, pengembangan kemasan serat alam masih membutuhkan penyempurnaan agar bisa dipakai lebih luas oleh industri. 

Bioplastik singkong belum selesai

Selain serat alam, BRIN juga meneliti bioplastik berbasis pati singkong. Periset BRIN Rina Wahyuningsih menyebut bahan ini berpotensi karena melimpah dan murah.

Dalam rilis BRIN, pada Maret 2025, bioplastik itu dilaporkan dapat terurai di tanah hingga 60–90 persen dalam enam hari.

Untuk memperbaiki sifatnya yang mudah menyerap air, tim peneliti menambahkan gelatin dari membran cangkang telur ayam kampung yang mengandung 31 persen kolagen.