Gangguan pasok global membuat harga plastik dan kemasan naik di pasar domestik pada awal April 2026.


KOSONGSATU.ID – Harga plastik di pasar domestik mulai naik pada awal April 2026, seiring terganggunya pasokan bahan baku global di tengah konflik Timur Tengah. Tekanan ini paling cepat dirasakan pelaku usaha kecil, terutama pedagang kemasan, usaha makanan, dan UMKM yang bergantung pada plastik untuk operasional harian. 

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiono—sebagaimana dikutip ANTARA—mengatakan struktur bahan baku industri plastik nasional memang masih sangat rentan terhadap gejolak luar negeri. Ia menyebut, kebutuhan nafta nasional mencapai 3 juta ton per tahun dan seluruhnya masih impor. 

Sementara kebutuhan bahan baku plastik seperti PE, PP, PET, PS, dan PVC sekitar 8 juta ton per tahun, dengan sekitar 50 persen masih bergantung pada impor. 

Ketergantungan itu membuat gangguan distribusi global cepat memukul industri dalam negeri. Menurut Fajar, pelaku usaha kini mulai membuka komunikasi dengan pemasok alternatif dari Asia Tengah, Afrika, dan Amerika. Namun, jalur baru itu membawa tantangan logistik, karena waktu tunggu pasokan menjadi lebih panjang, dengan lead time tercepat sekitar 50 hari. 

Tekanan juga datang dari biaya pengiriman laut. CMA CGM dalam advisori resminya menyatakan Emergency Conflict Surcharge mulai berlaku efektif 2 Maret 2026 hingga pemberitahuan lebih lanjut. Besarannya mencapai USD2.000 per kontainer kering 20 kaki dan USD3.000 per kontainer kering 40 kaki untuk rute tertentu di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. 

Kebijakan itu tidak otomatis berlaku untuk seluruh pengiriman ke Indonesia, tetapi menunjukkan konflik telah menambah ongkos logistik di jalur perdagangan penting. 

Sebelumnya, sebagaimana dikutip Kontan, Fajar juga menjelaskan gangguan dari sisi hulu terjadi karena distribusi minyak dan nafta tersendat. Mengutip laporan yang dimuat Kontan, harga bahan baku plastik disebut bergerak dari sekitar USD1.100 per ton menjadi USD1.400 dan berpotensi naik lagi, sedangkan nafta naik dari sekitar 600 dolar AS menjadi USD800.