Jauh sebelum Isaac Newton menuliskan hukum-hukumnya, petarung Madura sudah mempraktikkannya di gelanggang tanah — lewat sabetan rotan, irama gendang, dan tubuh yang dilatih selama bertahun-tahun. Sains itu nyata. Hanya namanya yang berbeda.


KOSONGSATU.ID — Sore itu, lapangan tanah di Kecamatan Batuputih, Sumenep, berubah menjadi semacam arena yang tak biasa. Dua lelaki berdiri berhadapan — telanjang dada, kepala terbungkus pelindung, sarung melilit pinggang, kaki telanjang menginjak bumi.

Di tangan kanan masing-masing, tergenggam satu bilah rotan kepang sepanjang sekitar 110 sentimeter.

Mereka berputar perlahan, menghentakkan kaki seperti sedang menari, lalu — swiiit — rotan itu melayang.

Penonton bergemuruh. Irama ghambang dan dhuk-dhuk makin menghentak.

Itulah Ojhung. Tradisi seni tarung khas Madura yang sudah ada jauh sebelum bangsa ini mengenal kata “fisika”.

Lebih Tua dari Nama Ilmunya

Budayawan Sumenep, Edhi Setiawan, meyakini bahwa Ojhung bukan tradisi muda.

“Ojung ini merupakan salah satu budaya Madura yang tertua. Bahkan diperkirakan sudah ada di masa pemerintahan Aria Wiraraja,” ujarnya kepada Media Center Sumenep. Aria Wiraraja adalah tokoh sejarah Madura yang hidup pada abad ke-13 — jauh sebelum Isaac Newton lahir pada 1643.

Asal-usulnya memiliki banyak versi. Satu versi menuturkan bahwa tradisi ini digagas pertama kali oleh tokoh masyarakat Desa Bunbere’, almarhum Kiai Darun, sebagai wujud syukur atas sumber air yang tak pernah kering sepanjang musim.

Versi lain menceritakan empat bersaudara yang saling berlatih tanding ketika mata air mereka mengering. Ada pula legenda tentang Guntur Ghunong yang mendapat petunjuk gaib untuk menggelar ritual pertarungan sebagai cara memohon turun hujan saat kemarau panjang melanda.

Versi mana pun yang dipercaya, satu hal pasti: para petarung Ojhung telah mempraktikkan prinsip-prinsip sains jauh lebih lama daripada sains itu sendiri diberi nama.

Rotan, Newton, dan Aksi-Reaksi

Kajian etnosains yang diterbitkan dalam Jurnal Pendidikan MIPA mengidentifikasi sederet konsep ilmiah yang tersimpan dalam setiap gerakan Ojhung: Hukum III Newton, gelombang bunyi, tekanan, momen inersia, kelenturan otot, hingga mekanisme penanganan luka pada kulit.

Mari kita mulai dari yang paling mendasar.

Ketika seorang petarung mengayunkan rotan ke punggung lawannya, ia tanpa sadar sedang memeragakan Hukum III Newton — untuk setiap aksi ada reaksi yang sama besar dan berlawanan arah. Gaya yang diberikan rotan ke tubuh lawan sama besarnya dengan gaya yang diterima tangan si pemukul. Inilah mengapa teknik menangkis — bukan sekadar menghindar — menjadi seni tersendiri dalam Ojhung.

Dengan menangkis menggunakan lengan kiri yang dibungkus kain tebal, seorang petarung mendistribusikan gaya reaksi itu ke area yang lebih luas, sehingga rasa sakitnya berkurang. Sebuah solusi mekanika yang ditemukan secara empiris, bukan dari buku teks.

Lalu ada konsep tekanan. Rotan yang dikepang dan dipegang dengan cara khusus — melilit di jari manis dan jari tengah menggunakan tali sisal yang disebut lopalo — bukan sekadar tradisi estetika. Cara menggenggam ini mempengaruhi distribusi tekanan saat pukulan mendarat.

Semakin terpusat titik kontak, semakin besar tekanan per satuan luas. Para tetua Ojhung menemukan formula pegangan yang optimal bukan lewat rumus P = F/A, melainkan lewat ratusan tahun trial and error di gelanggang tanah.