Perang pecah di Timur Tengah, uwi ungu jadi tameng andalan cegah krisis pangan di Indonesia.
KOSONGSATU.ID–Eskalasi konflik militer antara Israel yang didukung Amerika Serikat dan Iran pada awal Maret 2026 langsung mengguncang stabilitas dunia. Bentrokan senjata ini memicu penutupan jalur maritim strategis di Selat Hormuz dan Laut Merah.
Rantai pasok logistik global seketika lumpuh.
Distribusi energi, pupuk, dan komoditas pangan dunia terhenti. Kondisi ini membawa ancaman krisis impor yang serius bagi Indonesia. Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan inflasi pangan membayangi ekonomi domestik.
Berdasarkan data Februari 2026, inflasi Indonesia tercatat berada di level 4,76 persen secara tahunan, dan diproyeksikan melonjak tajam akibat guncangan ini.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) telah mengeluarkan peringatan keras. Mereka menyoroti tekanan impor yang mencekik, lonjakan harga bahan pokok, serta beban subsidi negara yang membengkak imbas meluasnya dampak perang.
Pakar Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang, Dion Maulana P., memperingatkan dampak rentetan dari krisis ini. Pernyataan tersebut dirilis resmi pada 2 Maret 2026.
”Harga BBM pasti akan naik dalam beberapa waktu ke depan. Kalau BBM naik, harga bahan pokok ikut naik. Kalau itu terjadi, inflasi tidak bisa dihindari,” ujar Dion.
Benteng Pertahanan Pangan Lokal
Sebagai respons darurat, pemerintah dan pakar pertanian mendorong diversifikasi pangan lokal. Uwi ungu (Dioscorea alata) muncul sebagai solusi strategis.
Umbi endemik Nusantara ini memiliki ketahanan luar biasa terhadap cuaca ekstrem dan mampu tumbuh di lahan marjinal.
Lebih penting lagi, uwi ungu tidak bergantung pada pupuk kimia impor yang rantai pasoknya sedang terputus. Kandungan nutrisinya sangat mumpuni. Uwi ungu memiliki karbohidrat tinggi, berkisar 16,4 hingga 31,8 gram per 100 gram bahan, menjadikannya setara dengan makanan pokok konvensional.
Kelebihan utama uwi ungu terletak pada Indeks Glikemik (IG) yang sangat rendah, yakni 22,4. Ini membuatnya sangat aman bagi penderita diabetes dan mampu menjaga stabilitas gula darah masyarakat saat masa krisis.
Peneliti Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Hapsari, bersama timnya menegaskan potensi besar tanaman ini dalam jurnal repositori Kementerian Pertanian RI.
”Uwi merupakan tanaman pangan lokal yang prospektif dan dapat digunakan sebagai sumber pangan fungsional. Umbi ini memiliki kadar gula yang rendah namun berkarbohidrat tinggi,” jelas Hapsari.
Rapuhnya sistem pasokan global terlihat dari krisis di kawasan konflik. Pendiri World Central Kitchen, José Andrés, pada 2 Maret 2026, mengungkap betapa cepatnya kelaparan melanda saat jalur logistik terputus.
”Jika perbatasan tetap ditutup, World Central Kitchen akan kehabisan makanan minggu ini. Kami memasak 1 juta makanan panas setiap hari. Kami butuh pasokan makanan setiap hari,” tegas José.
Substitusi karbohidrat menggunakan uwi ungu kini menjadi strategi sintas (survival) paling empiris. Tanaman ini memastikan masyarakat tetap memiliki pasokan kalori mandiri tanpa tersandera rantai logistik global yang hancur akibat perang.***




Tinggalkan Balasan