Jumlah perajin batik di Indonesia menyusut 20 persen dalam empat tahun terakhir. Ironisnya, penurunan puluhan ribu tenaga kriya ini terjadi di tengah lonjakan ekspor.
KOSONGSATU.ID — Jumlah perajin batik di Indonesia menyusut sekitar 20 persen dalam empat tahun terakhir. Krisis regenerasi tenaga kriya ini mengemuka saat pembukaan Puncak Pameran Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya.
Data Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia mencatat jumlah pelaku kriya merosot dari 131 ribu orang pada 2019 menjadi 105 ribu orang pada 2023. Artinya, sekitar 26 ribu perajin meninggalkan canting mereka.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mendorong percepatan regenerasi demi menjaga kelangsungan warisan adiluhung Nusantara ini saat membuka pameran di Atrium Tunjungan Plaza 3, Surabaya, Rabu, 30 September 2026.
“Hari Batik Nasional menjadi momentum kita bersama untuk meningkatkan kesadaran kolektif dan menumbuhkan rasa kecintaan pada batik,” kata Faisol mengingatkan ancaman kepunahan keahlian tradisional tersebut.
Anomali Lonjakan Kinerja Ekspor
Menariknya, penyusutan puluhan ribu perajin justru berbanding terbalik dengan catatan devisa. Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor batik sepanjang 2025 menembus USD 20,14 juta, melonjak 32,50 persen dari 2024.
Namun, tren penguatan ekspor tersebut tertahan pada triwulan II 2026. Nilai pengapalan tercatat USD 4,39 juta, merosot 13,76 persen dibandingkan periode serupa pada 2025 yang mencapai USD 5,09 juta.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan batik bukan sekadar artefak budaya masa silam. Komoditas ini memiliki nilai ekonomi bernilai tambah tinggi yang menopang perekonomian daerah.
Teka-Teki Standar Basis Data
Di balik angka tersebut, terselip anomali metodologi data pemerintah. Sebelumnya, kementerian pernah melansir nilai ekspor industri batik menembus USD 533 juta dengan serapan 200 ribu tenaga kerja.
Hingga kini, belum ada kejelasan batasan antara produk kriya murni hasil canting manual dan tekstil bermotif cetak mesin pabrikan dalam klaim angka devisa yang kerap tumpang tindih tersebut.***



Tinggalkan Balasan