Produksi beras 2026 diperkirakan masih melampaui konsumsi. Namun, hambatan distribusi dan ancaman kekeringan membuat harga belum tentu turun sebelum panen utama 2027.
KOSONGSATU.ID — Harga rata-rata beras eceran di Indonesia mencapai rekor Rp15.769 per kilogram pada September 2026. Harga diperkirakan bertahan tinggi hingga awal tahun depan karena distribusi tersendat dan musim tanam menghadapi ancaman El Niño.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan produksi beras pada Januari–November 2026 diperkirakan turun 2,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Badan Pangan Nasional memperkirakan produksi sepanjang 2026 mencapai sekitar 34 juta ton. Angka tersebut masih melampaui konsumsi nasional yang diperkirakan lebih dari 31 juta ton.
Namun, surplus produksi secara nasional belum membuat harga beras di tingkat konsumen turun. Persediaan tidak selalu tersedia pada wilayah, waktu, jenis, dan harga yang dibutuhkan pasar.
Hambatan Distribusi Menahan Pasokan
Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Global Indonesia Roy Mandey mengatakan terdapat kesenjangan antara biaya pembelian beras dari distributor dan harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah.
Sejumlah peritel harus membeli beras dengan harga di atas batas tersebut. Kondisi itu membuat peritel menghadapi pilihan menjual dengan kerugian atau mengurangi pasokan beras di gerainya.
Kelangkaan terutama mulai terlihat pada kemasan beras premium lima kilogram yang banyak dibeli konsumen perkotaan.
Perum Bulog menguasai sekitar 4,6 juta ton cadangan beras hingga pertengahan September. Namun, cadangan tersebut tidak seluruhnya beredar melalui pasar komersial karena sebagian disiapkan untuk bantuan pangan, stabilisasi harga, dan menghadapi risiko El Niño.
Panen 2027 Terancam Turun 10 Persen
Analis pangan IPB University Dwi Andreas Santosa memperkirakan harga beras berpotensi terus meningkat hingga Maret 2027. Pasokan dari panen utama yang tertunda diperkirakan baru memberikan tekanan penurunan harga mulai April.
Risiko tersebut muncul karena musim hujan yang lebih pendek dapat menunda waktu tanam dan memperpendek masa pertumbuhan padi.
Wakil Sekretaris Jenderal Kontak Tani Nelayan Andalan Zulharman Djusman memperkirakan produksi beras 2027 dapat turun hingga 10 persen. Sekitar 30 persen sawah di Indonesia belum mempunyai jaringan irigasi memadai sehingga rentan terhadap kekeringan.
Di sejumlah wilayah yang kekurangan air, khususnya bagian selatan Jawa, petani mulai beralih ke tanaman palawija atau membiarkan lahannya tidak ditanami.
Pemerintah perlu memastikan besarnya stok nasional benar-benar diterjemahkan menjadi pasokan yang terjangkau. Tanpa perbaikan distribusi dan perlindungan lahan dari kekeringan, cadangan besar dapat berjalan bersamaan dengan harga beras yang tetap tinggi.***




Tinggalkan Balasan