Militer Iran menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas agresi militer, memicu kepanikan pasar energi global.


KOSONGSATU.ID—Gelombang tak kasatmata itu datang dari radio frekuensi tinggi.

Pada malam 28 Februari 2026, suara peringatan dari Islamic Revolutionary Guard Corps menggema di perairan Teluk Persia. Seluruh kapal komersial diminta menghentikan pelayaran. Tidak ada izin melintas. Tidak ada toleransi.

Selat Hormuz dinyatakan tidak aman.

Keputusan itu disebut sebagai respons langsung atas agresi militer Amerika Serikat dan Israel yang sebelumnya mengguncang Teheran dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Garda Revolusi menyatakan langkah tersebut diambil “demi keamanan maritim internasional” karena kondisi kawasan dinilai sangat berbahaya akibat eskalasi militer.

Dalam hitungan jam, dunia berubah tegang.

Urat Nadi Energi Dunia

Selat Hormuz bukan sekadar jalur laut. Ia adalah arteri utama sistem energi global.

Menurut data terbaru U.S. Energy Information Administration (EIA), rata-rata sekitar 20 juta barel minyak mentah dan kondensat per hari melintasi selat sempit ini dalam beberapa tahun terakhir. Angka itu setara hampir 20–25 persen konsumsi minyak global.

Tak hanya minyak. Sekitar seperlima perdagangan gas alam cair dunia—terutama dari Qatar—juga melewati jalur yang lebarnya di titik tersempit hanya sekitar 33 kilometer tersebut.

Bagi Asia, dampaknya jauh lebih dalam. Lebih dari 80 persen minyak yang melintasi Hormuz ditujukan ke pasar Asia, termasuk India, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan. Ketergantungan India sangat signifikan karena sekitar separuh impor minyak mentahnya bergantung pada jalur ini, menurut laporan Kementerian Perminyakan India dan berbagai lembaga riset energi internasional.

Ketika jalur itu ditutup, bukan hanya kapal yang berhenti. Rantai pasok global ikut tersendat.

Lonjakan Harga yang Mengintai

Pasar merespons dengan cepat. Kontrak berjangka minyak mentah Brent melonjak tajam dalam perdagangan awal Asia. Para analis memperingatkan potensi volatilitas ekstrem jika penutupan berlangsung lebih dari beberapa hari.

Muyu Xu, analis minyak mentah senior dari Kpler Ltd, dalam wawancara pada 28 Februari 2026 menyebut skenario terburuk bisa mendorong harga Brent menembus USD 150 per barel. Sebagai perbandingan, harga rata-rata Brent sebelumnya berada di kisaran USD 60–70 per barel dalam beberapa bulan terakhir.

Lonjakan semacam itu bukan sekadar angka di layar bursa. Ia berarti inflasi energi, kenaikan biaya logistik, dan tekanan fiskal di negara-negara importir.

Dampaknya juga merembet ke sektor asuransi maritim. Sejumlah broker asuransi internasional menaikkan premi risiko perang untuk kapal yang beroperasi di Teluk Persia hingga puluhan persen. Catatan pasar menunjukkan premi bisa melonjak drastis setiap kali eskalasi militer terjadi di sekitar Hormuz.

Risiko bagi Iran Sendiri

Langkah menutup Hormuz bukan tanpa risiko bagi Teheran.

Iran sendiri masih mengandalkan ekspor minyak—terutama ke Tiongkok—sebagai sumber devisa utama di tengah sanksi internasional. Data bea cukai dan pelacakan tanker global menunjukkan sebagian besar ekspor minyak Iran bergerak melalui jalur yang sama.

Pakar geopolitik menilai langkah ini bisa menjadi alat tekanan strategis jangka pendek—semacam sinyal keras kepada komunitas internasional—ketimbang blokade permanen.

Namun sejarah menunjukkan, setiap ancaman terhadap Selat Hormuz selalu mengguncang stabilitas global. Pada berbagai krisis sebelumnya, sekadar pernyataan penutupan saja sudah cukup membuat pasar energi bergejolak.

Kini, dunia kembali berdiri di tepi jurang yang sama.

Ketegangan yang Melampaui Laut

Penutupan Selat Hormuz bukan hanya konflik regional. Ia menyentuh dapur rumah tangga di Asia, harga bahan bakar di Eropa, hingga kebijakan moneter bank sentral global.

Jika eskalasi berlanjut, bukan mustahil negara-negara besar akan meningkatkan kehadiran militer di sekitar selat. Jalur sempit itu berpotensi menjadi titik temu kekuatan global—dengan risiko salah kalkulasi yang jauh lebih besar.

Untuk saat ini, kapal-kapal menunggu. Radar berputar. Pasar bergetar.

Dan dunia menyadari satu hal: ketika Hormuz berhenti, denyut ekonomi global ikut tersendat.***