Serangan udara 28 Februari 2026 merenggut nyawa 24 pelajar di Iran.


KOSONGSATU.ID–Sedikitnya 24 pelajar tewas dalam serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Serangan yang diklaim menyasar fasilitas nuklir itu justru menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar.

Operasi dimulai pada pagi hari waktu setempat. Ledakan mengguncang sejumlah wilayah yang berdekatan dengan infrastruktur strategis. Di tengah gempuran, para pelajar menjadi korban paling memilukan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan langsung dimulainya operasi tersebut pada 28 Februari 2026. Ia menyebut langkah itu sebagai upaya menghentikan ambisi nuklir Iran.

“Rezim teroris yang kejam ini tidak boleh diizinkan untuk mempersenjatai diri dengan senjata nuklir yang akan memungkinkan mereka untuk mengancam seluruh umat manusia,” ujar Trump dalam konferensi pers, 28 Februari 2026.

Pada hari yang sama, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, membenarkan keterlibatan negaranya. Ia menyatakan serangan dilakukan untuk menghapus ancaman terhadap Israel.

“Negara Israel meluncurkan serangan pendahuluan terhadap Iran untuk menghapus ancaman terhadap negara Israel,” kata Katz dalam keterangan pers Kementerian Pertahanan Israel, 28 Februari 2026.

Korban dari kalangan pelajar memicu reaksi luas. Dunia internasional menyoroti dampak kemanusiaan yang ditimbulkan dari operasi militer tersebut.

Kutukan Dunia Internasional

Menteri Luar Negeri Norwegia, Espen Barth Eide, menilai dalih serangan pencegahan tidak sesuai hukum internasional. Ia menekankan bahwa konsep pre-emptive strike mensyaratkan ancaman yang segera dan nyata.

“Serangan itu digambarkan oleh Israel sebagai serangan pencegahan, tetapi tidak sesuai dengan hukum internasional. Serangan pencegahan membutuhkan ancaman yang segera dan nyata,” ujar Eide dalam keterangan resmi, 28 Februari 2026.

Pemerintah Indonesia juga menyampaikan sikap resmi. Kementerian Luar Negeri RI mewakili Presiden Prabowo Subianto menyatakan penyesalan mendalam atas jatuhnya korban sipil, termasuk pelajar.