Jenderal AH Nasution bahkan harus turun tangan membujuk ibunda Zainul agar mengikhlaskan putranya dimakamkan di pusara para pahlawan.

Kisah Soekarno dan Zainul Arifin menjadi monumen sejarah; bukti nyata bahwa dedikasi, diplomasi, dan keberanian mampu merajut persahabatan yang melampaui kepentingan politik, demi tegaknya Republik Indonesia.***


Daftar Pustaka

  • Bizawie, Zainul Milal. (2015). Pernyataan dalam bedah buku “KH. Zainul Arifin: Panglima Santri, Ikhlas Membangun Negeri”. International Islamic Expo, Jakarta.
  • Hilmi, Ario. (2015). KH. Zainul Arifin: Panglima Santri, Ikhlas Membangun Negeri. Jakarta: Pustaka Compass.
  • HS, Hairus Salim. Kelompok Paramiliter NU.
  • Arsip Surat Kabar Berbahasa Belanda: Java-bode (1952, 1955), Het nieuwsblad voor Sumatra (1955), Algemeen Indisch dagblad (1955), De locomotief (1955).
  • Catatan wawancara Hamid Baidlowi (Sekretaris KH Wahid Hasyim), dikutip dari khzainularifin.blogspot.co.id.