Mereka menjadi petinggi pertama Republik Indonesia yang menunaikan ibadah haji, hingga Raja Arab Saudi, Raja Saud, menyambut mereka dengan penuh sukacita dan menghadiahi Zainul sebilah pedang berlapis emas.

Sepulang dari Tanah Suci, dwitunggal ini mematangkan gagasan pembangunan Masjid Istiqlal. Soekarno, sang insinyur, merancang arsitekturnya agar kokoh menantang zaman, sementara Zainul memimpin biro yang mengurus realisasi pembangunannya.

Setahun kemudian, Zainul mendampingi Soekarno melawat ke Uni Soviet. Upaya diplomasi tingkat tinggi mereka membuahkan hasil gemilang; pemerintah komunis di Moskow mengizinkan pembukaan kembali sebuah masjid yang kini tersohor sebagai Masjid Biru (kerap diulas sebagai Masjid Soekarno).

Penulis sekaligus cucu sang tokoh, Ario Hilmi, mengenang komentar kakeknya saat itu, “Here the Moslem religion resembles a lamp in which the light has almost died out and the oil has not been renewed (Di sini agama Islam seperti lampu minyak hampir padam yang minyaknya belum diganti).”

Penyeimbang Politik di Tengah Badai Nasakom

Memasuki fase Demokrasi Terpimpin, Soekarno memusatkan kekuasaan dan gencar menerapkan paham Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis). Zainul Arifin, yang kala itu menjabat Ketua DPR-GR, tampil sebagai benteng terdepan. Mewakili faksi NU, ia secara tegas menolak dominasi Partai Komunis Indonesia (PKI) dan mengerem manuver politik kelompok kiri agar tidak menguasai presiden.

Kepergian Zainul pada 1963 meninggalkan celah besar dalam konstelasi politik nasional. Keseimbangan di sekitar Soekarno goyah. Sejarawan Zainul Milal Bizawie menegaskan krusialnya peran sang kiai bagi bangsa.

“Setelah KH Zainul Arifin meninggal ditembak, Presiden Soekarno kehilangan satu sayap, sehingga Soekarno banyak dipengaruhi kelompok kiri. Tentu jika Zainul Arifin masih hidup, tidak akan ada cerita G30S di dalam sejarah Bangsa Indonesia,” tegas Zainul Milal.

Presiden Soekarno sangat terpukul kehilangan sahabat, penasihat, sekaligus pelindung nyawanya. Sebelum jenazah diberangkatkan ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Soekarno langsung menetapkan KH Zainul Arifin sebagai Pahlawan Nasional.