Kisah persahabatan KH Zainul Arifin dan Soekarno. Sang Panglima Santri rela mengorbankan nyawa demi melindungi Sang Proklamator.
KOSONGSATU. ID – Bukti nyata dari ikatan batin tersebut terekam dalam sebuah peristiwa berdarah yang nyaris mengubah sejarah bangsa. Tembakan memekakkan telinga memecah kekhusyukan salat Idul Adha.
Tembakan memekakkan telinga memecah kekhusyukan salat Idul Adha pada 14 Mei 1962. Sebutir peluru tajam melesat dan menembus bahu kiri Ketua DPR-GR, KH Zainul Arifin Pohan. Sejatinya, peluru dari utusan DI/TII tersebut mengincar nyawa Presiden Soekarno. Posisi Zainul yang berdekatan dengan sang presiden membuatnya menjadi perisai hidup yang menyelamatkan pemimpin negara.
Tim dokter RSPAD Gatot Soebroto berjuang keras memulihkan kondisi Zainul. Ia sempat diizinkan pulang setelah tiga bulan perawatan. Sayangnya, kesehatan sang tokoh terus menurun akibat proyektil yang sempat bersarang dekat jantungnya. Setelah sepuluh bulan keluar masuk rumah sakit, Sang Panglima Santri mengembuskan napas terakhir pada 2 Maret 1963, meninggalkan duka mendalam bagi bangsa dan sahabat karibnya, Bung Karno.
Dari Barus Menuju Medan Pergerakan
Lahir di Barus, Tapanuli Tengah pada 2 September 1909, Zainul Arifin memiliki darah bangsawan. Meski tumbuh di tengah perceraian orang tua, ia berhasil menyerap pendidikan modern di Hollands Indische School (HIS) dan Normal School, sekaligus memperdalam ilmu agama di surau.
Zainul muda enggan menjalani hidup yang terkekang perjodohan. Ia merantau ke Batavia pada 1926 dan membangun kemandirian. Mengawali karier sebagai pegawai pemerintah kolonial (amtenar), ia kemudian beralih menjadi guru dan pembela hukum (Pokrol Bambu) saat resesi global melanda. Kepiawaiannya berorasi, berdebat, serta kefasihannya berbahasa Belanda dan Arab memikat para kiai Nahdlatul Ulama (NU).
Kariernya melesat hingga ia dipercaya memimpin Laskar Hizbullah pada era pendudukan Jepang. Ia melatih para pemuda Islam teknik kemiliteran untuk membela negara. Laskar santri ini terbukti gigih melancarkan taktik gerilya melawan Sekutu dan Belanda demi mempertahankan kemerdekaan.
Diplomasi Tanah Suci dan Arsitektur Peradaban
Kedekatan Zainul Arifin dan Soekarno lebih dari sekadar relasi politik. Keduanya menjalin persahabatan erat yang berlandaskan visi kebangsaan dan kecintaan pada Islam. Sebagai Wakil Perdana Menteri II, Zainul menuntaskan urusan krusial negara sebelum berangkat menunaikan ibadah haji bersama Soekarno pada tahun 1955.




Tinggalkan Balasan