Ziarah Budaya, Bukan Wisata Biasa
Gelar Alam kerap disebut “haji budaya”. Bukan karena ia menggantikan rukun Islam kelima, melainkan karena maknanya sebagai perjalanan transformasi. Di sini, perjalanan fisik berkelindan dengan perenungan batin.
Pemikiran Imam al-Ghazali terasa relevan. Dalam Ihya’ Ulum al-Din, ia menegaskan bahwa esensi haji bukan pada ritual semata, melainkan perubahan sikap setelahnya: kerendahan hati, kepedulian sosial, dan pelepasan dari ketergantungan duniawi. Di Gelar Alam, gagasan itu menemukan padanannya dalam relasi manusia dengan alam.
Warga kasepuhan hidup dengan ajaran Pancer Pangawinan—falsafah keseimbangan antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Mereka tidak menaklukkan hutan, melainkan memeliharanya. Padi sawah dan padi huma ditanam dari benih lokal warisan leluhur. Hutan menjadi ruang hidup bersama: tempat mencari buah, obat, dan kayu bakar secukupnya.

Perpindahan kampung gede dari Ciptarasa ke Ciptagelar pada 2001, lalu ke Gelar Alam pada 2021, dimaknai sebagai peralihan simbolik: dari ciptaan manusia menuju ciptaan semesta. Perubahan bukan perpecahan, melainkan langkah menuju keselarasan yang lebih utuh.
Tiga Jalur, Tiga Tingkat Kesabaran
Ada tiga jalur utama menuju Gelar Alam. Jalur pertama—sekitar 28 kilometer dari Pelabuhan Ratu menuju Sukawayana—dikenal paling eksotis. Sembilan kilometer di antaranya membelah hutan, dibangun gotong royong: tiap warga satu meter jalan, satu cangkul, tiga hari kerja.
Jalur kedua melewati Sirnaresmi sejauh kurang lebih 17 kilometer, dengan kondisi paling menantang secara teknis. Jalur ketiga dari Cicadas–Cikadu–Gunung Bongkok di wilayah Lebak adalah yang terpanjang, namun relatif lebih ramah karena sebagian sudah beraspal—meski 10 kilometer terakhir tetap berbatu.
Musim kemarau, terutama Juli–Agustus, adalah waktu paling ideal. BBM harus terisi penuh sebelum masuk Sirnaresmi. Kehabisan bensin di tengah hutan bukan pengalaman spiritual yang disarankan.




Tinggalkan Balasan