Cuaca ekstrem melanda Indonesia di tengah musim kemarau. Hujan deras tak kunjung reda. Apa penyebabnya? Sampai kapan berlangsung? Dan bagaimana dampaknya terhadap pertanian nasional?
KOSONGSATU.ID—Di saat seharusnya langit cerah dan tanah mulai retak-retak karena musim kemarau, Indonesia justru diselimuti mendung pekat dan hujan yang tak kunjung reda. Sejak Mei 2025, pola cuaca di banyak wilayah mengalami penyimpangan drastis.
Bukannya kering, justru curah hujan tinggi mendominasi hari-hari, bahkan di daerah yang biasanya gersang.
Fenomena ini disebut oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebagai bentuk anomali musim kemarau. Alih-alih kemarau kering, Indonesia kini mengalami apa yang disebut kemarau basah.
“Penyebab utamanya adalah melemahnya Monsun Australia, yang biasanya membawa udara kering ke Indonesia,” ujar Deputi Klimatologi BMKG, Dr. Urip Haryoko, dalam keterangan pers tertulis pada 11 Juli 2025.
Ia menjelaskan bahwa kondisi ini diperparah oleh suhu muka laut di selatan Indonesia yang tetap hangat, sehingga memperkuat penguapan dan memicu pembentukan awan hujan.
Tak hanya itu, sejumlah faktor atmosfer lain turut memperkuat intensitas hujan, seperti gelombang atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan Rossby. Bahkan, keberadaan zona konvergensi angin serta aktivitas siklon tropis lokal dan regional menambah daftar panjang penyebab anomali ini.
“Inilah kenapa hujan deras terus terjadi meskipun secara kalender kita sudah memasuki musim kemarau,” tambah Urip, dalam keteranganya di situs resmi BMKG, diakses 16 Juli 2025.
Menurut prakiraan BMKG, anomali ini diperkirakan akan terus berlangsung hingga Oktober 2025, dengan intensitas hujan yang tetap tinggi terutama di wilayah-wilayah selatan ekuator, seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan Selatan.
“Cuaca ekstrem ini bisa terjadi setidaknya sampai minggu ketiga Juli, dan diprediksi akan melandai bertahap hingga awal musim hujan normal pada akhir Oktober,” ujar Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, pada konferensi pers daring, 10 Juli 2025.




Tinggalkan Balasan