Dampak pada Pertanian: Hancur Jadwal Tanam, Anjlok Produksi

Dampak dari anomali ini paling terasa di sektor pertanian. Petani sayuran di dataran tinggi seperti Enrekang, Sumatera Barat, dan Garut mengeluhkan penurunan produksi karena hujan tak henti mengganggu pertumbuhan tanaman.

Dalam studi yang dilakukan di Desa Tongko, Kabupaten Enrekang, para petani kubis mengaku kesulitan menentukan jadwal tanam. Curah hujan tinggi mengakibatkan pembusukan akar dan serangan hama meningkat.

“Produktivitas bisa turun sampai 20 persen,” ungkap salah satu petani, yang dikutip dari laporan penelitian Universitas Muhammadiyah Makassar, diakses pada 15 Juli 2025.

BMKG sendiri memperingatkan bahwa perubahan iklim dan cuaca ekstrem berisiko mengurangi produksi padi nasional sebesar 1,13–1,89 juta ton dan mengancam sekitar 2.200 hektar sawah yang rawan tergenang atau kekeringan mendadak.

“Ini bukan cuma soal cuaca, ini soal ketahanan pangan,” tegas Dwikorita dalam pernyataan resmi BMKG pada 8 Juli 2025.

Berikut ringkasan wilayah terdampak kemarau basah di Indonesia berdasarkan data BMKG dan sumber resmi lainnya (me–Jul 2025):

1. Jawa Barat & Jabodetabek

Terjadi hujan ekstrem >100 mm/hari pada 5–6 Juli 2025 di Bogor, Jakarta Timur, dan Tangerang, menyebabkan genangan, gangguan lalu lintas, dan infrastruktur terdampak.

Pertanian hortikultura—seperti cabai dan bawang—terganggu karena genangan dan penyakit tanaman yang meningkat.

2. Jawa Tengah & Jawa Timur

Hujan lebat di puncak kemarau; di Grobogan, Klaten, Sragen curah hujan mencapai 120–180 mm (normalnya <50 mm), mengganggu tanam jagung dan padi gogo.

Prakiraan kemarau lebih basah dari normal, dengan periode puncak hujan hingga Agustus–Oktober 2025.

3. Sulawesi Selatan

Hujan >100 mm/hari tercatat di sejumlah kabupaten pada 5 Juli, berujung pada longsor dan banjir bandang.

Sepekan ke depan, potensi ekstrim tetap tinggi.

4. Nusa Tenggara & Bali

Intensitas hujan tinggi di Mataram (NTB) pada 5 Juli (>100 mm), dengan wilayah NTT dan Bali juga berisiko hujan lebat minggu-minggu berikutnya .

Diprediksi musim kemarau basah berlangsung hingga Agustus. Dampaknya positif bagi wilayah tadah hujan seperti Papua & timur, namun negatif bagi hortikultura.

5. Kalimantan Timur

Waspada hujan lebat dan potensi banjir di sepekan ke depan.

6. Maluku & Papua (bagian tengah & utara)

Potensi cuaca ekstrem di Maluku Tengah serta Papua bagian tengah dan utara selama periode 5–12 Juli.

Dampak heterogen: kemarau basah membantu suplai air, tapi berpotensi menimbulkan genangan dan penyakit tanaman.

7. Sumatera Selatan & Selatan Jawa

Curah hujan di atas normal selama kemarau telah dilaporkan sejak April–Mei di Sumsel, Jawa, Bali, NTB–NTT, hingga Oktober diramal tetap hujan.