Pengunduran diri sukarela sang gubernur menandai akhir era transformasi digital. Pasar menanti suksesor independen untuk menjaga stabilitas lembaga dan nilai tukar.

KOSONGSATU.ID – ​Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menyebut pengunduran diri Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memicu dinamika baru bagi kepemimpinan bank sentral. Perry resmi menanggalkan jabatan secara sukarela pada Senin, 27 Juli 2026, usai hampir delapan tahun memimpin.

​Faisal mengingatkan agar proses pemilihan gubernur baru terbebas dari persepsi intervensi politik dan lebih mengutamakan kandidat internal. “Itu yang dibutuhkan ya dari sisi kompetensi dan juga meritokrasinya,” kata Faisal.

​Mundurnya Perry membuat Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti kini bertugas sebagai Pejabat Gubernur Sementara (PGS). Transisi ini terjadi di tengah gejolak pasar yang menekan nilai tukar rupiah hingga terperosok ke level Rp 18.000 per USD.

​Warisan Digital dan Perlawanan terhadap AS

​Sebelumnya, selama dua periode kepemimpinan, Perry menempatkan digitalisasi sebagai pilar utama melalui Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI). Inovasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan BI-FAST dinilai berhasil menyederhanakan transaksi perekonomian nasional.

​Ekspansi QRIS hingga ke lintas negara rupanya memicu teguran dari Amerika Serikat melalui laporan United States Trade Representative (USTR) 2025. Sistem pembayaran tersebut dituding kurang transparan dan membatasi keterlibatan pelaku usaha asing.

​Merespons kritik tersebut semasa menjabat, Perry menegaskan bahwa pengembangan sistem nasional tetap mengadopsi standar internasional. “Sekali lagi, QRIS adalah standar versi Indonesia yang kita adopsi dari standar global,” ujar Perry.

​Menanti Sosok Suksesor Independen

​Ihwal pergerakan pasar, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman menilai transparansi pemilihan suksesor sangat krusial. Figur teknokrat dari dalam tubuh BI memiliki keunggulan untuk menjaga kesinambungan kebijakan moneter.

​Selain itu, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menganggap kelancaran operasional kelembagaan pada masa transisi ini sebagai prioritas. “Tantangan terpenting saat ini bukan kemampuan Destry menjalankan tugas, melainkan memastikan komunikasi transisi dilakukan secara cepat, konsisten, dan meyakinkan,” tutur Josua.***