Setelah Bung Karno menyempurnakan draf tersebut dengan mencantumkan nama Pangkostrad Mayor Jenderal Soeharto, ia mengutus langsung Idham Chalid untuk menyerahkan surat krusial itu. Surat inilah yang kelak membalikkan arah sejarah Indonesia sebagai Supersemar.
Baru setelah transisi kekuasaan tak lagi terbendung, Idham mengambil langkah mundur yang rasional. Ia melepas Soekarno demi mempertahankan eksistensi NU di era Orde Baru yang mulai bergulir.
Relasi antara Soekarno dan Idham Chalid membuktikan bahwa panggung sejarah tidak melulu berisi intrik menjatuhkan.
Mereka mempertontonkan harmoni dua kutub: nasionalis yang meledak-ledak dan agamis yang menyejukkan. Idham mencontohkan bagaimana seorang ulama mampu merawat pemimpinnya dengan taktik yang elegan, tanpa sedikit pun melepaskan prinsip perjuangan umat. Sebuah warisan keluwesan politik tingkat tinggi yang masih terus bergema hingga hari ini.***
Daftar Pustaka:
- Fealy, Greg. Ijtihad Politik Ulama: Sejarah Nadhlatul Ulama 1952-1967.
- Muhajir, Ahmad. Idham Chalid: Guru Politik Orang NU.
- Saelan, H. Maulwi. Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66.
- Zuhri, Saifuddin. Berangkat Dari Pesantren.
- Tim Penulis. Sejarah Banjar. Balitbangda Provinsi Kalsel & Penerbit Ombak Yogyakarta.
- Wawancara Grandy Ramadhan (Cucu Idham Chalid) kepada Historia.



Tinggalkan Balasan