Di balik gaya meledak-ledak Soekarno, KH Idham Chalid hadir membawa jurus lembut untuk menjaga presiden dan nasib umat Islam.


KOSONGSATU. ID – Panggung sejarah Indonesia mencatat sebuah harmoni unik antara dua kutub yang sangat berbeda: nasionalis populis dan agamis moderat.

Di satu sisi ada Presiden Soekarno yang mampu membakar emosi massa lewat pidato berapi-api, dan di sisi lain ada KH Idham Chalid, ulama NU yang memikat lewat ilmu yahannu—kemampuannya menyejukkan suasana hati pendengar.

Melampaui batas lobi politik biasa, kedekatan keduanya membuktikan bahwa kesetiaan dan keluwesan politik seorang kiai mampu menjadi perisai bagi negara, bahkan hingga menembus pusaran misteri Supersemar.

Jurus Lembut di Tengah Pusaran Krisis

Menjelang dekade 1960-an, badai politik menghantam Indonesia. Presiden Soekarno mulai mengubah haluan negara dengan menerapkan Demokrasi Terpimpin. Rakyat dan tokoh politik banyak menentang gagasan ini, termasuk mayoritas kiai Nahdlatul Ulama (NU).

Namun, KH Idham Chalid mengambil langkah berbeda yang mengejutkan. Ia justru memilih merapat dan mendukung Bung Karno.

Grandy Ramadhan, cucu Idham Chalid, mengisahkan kedekatan kakeknya dengan sang presiden. Soekarno berkali-kali mempercayakan kursi Wakil Perdana Menteri kepada Idham.

Bahkan, Idham turut menggagas ide pengangkatan Bung Karno sebagai presiden seumur hidup.

Keduanya memang memancarkan kharisma yang mampu memikat massa, tetapi dengan gaya yang bertolak belakang. Soekarno sering membakar emosi audiens lewat pidato berapi-api.

Sebaliknya, Idham selalu tampil menyejukkan. Ia sangat piawai membaca suasana hati pendengarnya. Di kalangan pesantren, Idham menguasai ilmu yahannu—kemampuan mengatakan hal-hal yang menyenangkan dan membuat lawan bicaranya merasa nyaman.

Ahmad Muhajir, penulis buku Idham Chalid: Guru Politik Orang NU, menganalogikan kedua tokoh ini layaknya dua pesilat tangguh. “Kalau mau dianalogikan dengan jurus pesilat: Soekarno menyerang dengan jurus yang keras dan gesit, Idham menyambut serangan dengan jurus lembut, namun mematikan,” ungkap Muhajir.

Menjinakkan Ideologi demi Menyelamatkan Umat

Tentu saja, dukungan Idham memicu rentetan tanya. Mengapa sang ulama membela manifesto populis nasionalis Soekarno secara blak-blakan?

Sejarawan Greg Fealy memandang taktik ini sebagai ijtihad politik yang cerdik. Idham sadar betul, melawan Soekarno secara frontal hanya akan membahayakan karir politiknya dan menyingkirkan NU dari panggung kekuasaan.

Ia wajib berada di dalam sistem agar ormas Islam terbesar itu tetap memiliki ruang perwakilan. Jika NU terdepak, umat Islam kehilangan tameng pelindungnya.

Idham bahkan berani membela konsep Bung Karno dengan analogi yang cerdas agar kaum nadhliyin bisa menerimanya. Ia menegaskan batasan yang jelas antara ajaran komunis dan gagasan sang presiden.

“Komunisme, seperti halnya anjing, adalah najis. Tapi Soekarnoisme tidaklah najis, karena dia bukan komunisme. Paling banter Soekarnoisme itu adalah seperti anjing laut dan sebagaimana Anda tahu anjing laut menurut Islam tidaklah najis.” — KH Idham Chalid.

Imam Sholat yang Menjadi Perisai

Lebih dari sekadar urusan lobi politik, ikatan emosional keduanya teruji murni saat maut mengintai.

Pada perayaan Idul Adha, 14 Mei 1962, Idham bertindak selaku imam sholat di Masjid Baiturrahim, Komplek Istana Kepresidenan. Soekarno berdiri khusyuk tepat di saf terdepan.

Memasuki rakaat kedua, tepat saat jamaah melakukan gerakan i’tidal, rentetan tembakan memecah suasana. Seorang penyerang dari saf ketiga memuntahkan peluru ke arah sang presiden.

Pasukan Pengawal Presiden bergerak kilat dan berhasil menggagalkan peluru mematikan tersebut. Bung Karno selamat. Namun tragisnya, Idham Chalid justru menjadi satu dari lima korban yang meneteskan darah akibat terjangan peluru nyasar.

Peristiwa berdarah ini secara tidak langsung merajut kedekatan emosional sang kiai dan proklamator.

Saksi Kunci di Balik Misteri Supersemar

Kesetiaan Idham kembali melewati ujian berat saat krisis Gerakan 30 September meletus. Ketika banyak pihak mulai curiga dan meninggalkan Bung Karno, Idham tetap bertahan mencoba meredam gejolak di internal NU.

Bahkan, ia menjelma menjadi salah satu saksi sejarah paling penting dalam pusaran transisi kekuasaan.

Di tengah situasi genting, Bung Karno secara khusus memanggil Idham Chalid bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sang presiden mengajak mereka merumuskan draf surat perintah untuk mengelabui kelompok yang merongrong negara.

Setelah Bung Karno menyempurnakan draf tersebut dengan mencantumkan nama Pangkostrad Mayor Jenderal Soeharto, ia mengutus langsung Idham Chalid untuk menyerahkan surat krusial itu. Surat inilah yang kelak membalikkan arah sejarah Indonesia sebagai Supersemar.

Baru setelah transisi kekuasaan tak lagi terbendung, Idham mengambil langkah mundur yang rasional. Ia melepas Soekarno demi mempertahankan eksistensi NU di era Orde Baru yang mulai bergulir.

Relasi antara Soekarno dan Idham Chalid membuktikan bahwa panggung sejarah tidak melulu berisi intrik menjatuhkan.

Mereka mempertontonkan harmoni dua kutub: nasionalis yang meledak-ledak dan agamis yang menyejukkan. Idham mencontohkan bagaimana seorang ulama mampu merawat pemimpinnya dengan taktik yang elegan, tanpa sedikit pun melepaskan prinsip perjuangan umat. Sebuah warisan keluwesan politik tingkat tinggi yang masih terus bergema hingga hari ini.***


Daftar Pustaka:

  • Fealy, Greg. Ijtihad Politik Ulama: Sejarah Nadhlatul Ulama 1952-1967.
  • Muhajir, Ahmad. Idham Chalid: Guru Politik Orang NU.
  • Saelan, H. Maulwi. Kesaksian Wakil Komandan Tjakrabirawa: Dari Revolusi 45 sampai Kudeta 66.
  • Zuhri, Saifuddin. Berangkat Dari Pesantren.
  • Tim Penulis. Sejarah Banjar. Balitbangda Provinsi Kalsel & Penerbit Ombak Yogyakarta.
  • Wawancara Grandy Ramadhan (Cucu Idham Chalid) kepada Historia.