Sejarawan Greg Fealy memandang taktik ini sebagai ijtihad politik yang cerdik. Idham sadar betul, melawan Soekarno secara frontal hanya akan membahayakan karir politiknya dan menyingkirkan NU dari panggung kekuasaan.
Ia wajib berada di dalam sistem agar ormas Islam terbesar itu tetap memiliki ruang perwakilan. Jika NU terdepak, umat Islam kehilangan tameng pelindungnya.
Idham bahkan berani membela konsep Bung Karno dengan analogi yang cerdas agar kaum nadhliyin bisa menerimanya. Ia menegaskan batasan yang jelas antara ajaran komunis dan gagasan sang presiden.
“Komunisme, seperti halnya anjing, adalah najis. Tapi Soekarnoisme tidaklah najis, karena dia bukan komunisme. Paling banter Soekarnoisme itu adalah seperti anjing laut dan sebagaimana Anda tahu anjing laut menurut Islam tidaklah najis.” — KH Idham Chalid.
Imam Sholat yang Menjadi Perisai
Lebih dari sekadar urusan lobi politik, ikatan emosional keduanya teruji murni saat maut mengintai.
Pada perayaan Idul Adha, 14 Mei 1962, Idham bertindak selaku imam sholat di Masjid Baiturrahim, Komplek Istana Kepresidenan. Soekarno berdiri khusyuk tepat di saf terdepan.
Memasuki rakaat kedua, tepat saat jamaah melakukan gerakan i’tidal, rentetan tembakan memecah suasana. Seorang penyerang dari saf ketiga memuntahkan peluru ke arah sang presiden.
Pasukan Pengawal Presiden bergerak kilat dan berhasil menggagalkan peluru mematikan tersebut. Bung Karno selamat. Namun tragisnya, Idham Chalid justru menjadi satu dari lima korban yang meneteskan darah akibat terjangan peluru nyasar.
Peristiwa berdarah ini secara tidak langsung merajut kedekatan emosional sang kiai dan proklamator.
Saksi Kunci di Balik Misteri Supersemar
Kesetiaan Idham kembali melewati ujian berat saat krisis Gerakan 30 September meletus. Ketika banyak pihak mulai curiga dan meninggalkan Bung Karno, Idham tetap bertahan mencoba meredam gejolak di internal NU.
Bahkan, ia menjelma menjadi salah satu saksi sejarah paling penting dalam pusaran transisi kekuasaan.
Di tengah situasi genting, Bung Karno secara khusus memanggil Idham Chalid bersama Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Sang presiden mengajak mereka merumuskan draf surat perintah untuk mengelabui kelompok yang merongrong negara.





Tinggalkan Balasan