Kesombongan Trump dan Netanyahu membutakan mereka dari kekuatan spiritual dan sistem politik Iran yang tak bisa dibom.
Oleh: Faried Wijdan | Penulis KosongSatuID
Donald Trump dan Benjamin Netanyahu berbagi satu tabiat buruk yang sama, dan tabiat itu sering kali menjadi hulu dari kesalahan-kesalahan besar: kecongkakan. Keduanya selalu merasa berada di pihak yang tak terkalahkan.
Amerika Serikat memang memegang status adikuasa dengan anggaran militer terbesar di dunia. Sementara itu, Israel kerap menepuk dada sebagai negara dengan militer paling mematikan di Timur Tengah. Berbekal teknologi mutakhir, intelijen canggih, dan dukungan politik tanpa batas dari Washington, mereka merasa bisa berbuat semaunya. Namun, sejarah selalu punya cara brutal untuk mengingatkan kita bahwa kesombongan adalah rahim yang paling subur bagi kebodohan.
Orang yang terlalu yakin pada dirinya sendiri biasanya akan lengah. Ia berhenti mempelajari lawannya secara utuh dan menganggap musuh sekadar kerikil di hadapan kedigdayaannya. Tepat di titik buta inilah, kesalahan kalkulasi Washington dan Tel Aviv terhadap Teheran terjadi.
Senjata Canggih vs Teologi Perlawanan
Saya tidak sedang meramalkan bahwa Iran akan menang mutlak. Fakta di lapangan menunjukkan Iran pasti menanggung korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang masif akibat serangan keroyokan ini. Iran memang memiliki kemajuan pesat dalam teknologi rudal balistik dan pertahanan udara. Tetapi, kekuatan fundamental mereka justru bersemayam pada sesuatu yang kebal terhadap rudal penembus bungker: teologi perlawanan.
Dalam kultur politik dan agama Iran pascarevolusi, kata “menyerah” tidak pernah ada dalam kamus mereka. Mereka meresapi jihad berdimensi eskatologis sebagai ruh perlawanan melawan penindasan. Inspirasi utamanya bersumber dari syahadah Imam Husayn di Karbala. Bagi kesadaran kaum Syiah, Karbala bukan sekadar tragedi masa lalu, melainkan paradigma abadi tentang keberanian melawan kezaliman, terlepas dari bayang-bayang kekalahan militer.
Di dalam paradigma teologis ini, kematian bukanlah titik akhir. Gugur sebagai martir atau syahid adalah sebuah pencapaian tertinggi. Syuhada tidak raib ditelan bumi; mereka justru hidup kembali dalam dimensi makna yang lebih sakral, bertransformasi menjadi bahan bakar moral bagi generasi selanjutnya.
Tradisi ini juga merawat konsep unik tentang kehadiran melalui ketidaktampakan. Mereka meyakini Imam Mahdi berada dalam keadaan gaib—tidak terlihat, tetapi terus hadir menyetir sejarah sebagai perpanjangan tangan Ilahi. Seperti pengamatan Connie Chen, teologi ketaktertampakan ini justru memelihara eksistensi. Seorang syahid sering kali jauh lebih “hidup” dan berbahaya bagi musuhnya setelah ia wafat, ketimbang saat ia masih bernapas.
Mengubah Pemimpin Menjadi Simbol Suci
Atas dasar itulah, membunuh figur sentral seperti Ayatullah Ali Khamenei merupakan blunder strategis paling fatal. AS dan Israel mungkin berharap pembunuhan ini akan mematahkan tulang punggung perlawanan. Realitasnya justru sebaliknya. Kematian tersebut otomatis mendongkrak statusnya dari sekadar pemimpin politik fana menjadi simbol spiritual abadi.
Trump dan Netanyahu gagal total membaca dimensi psikologis dan teologis ini. Mata mereka terlalu rabun oleh arogansi untuk mau menyelami karakter masyarakat yang mereka musuhi. Mereka melabeli Iran sebatas penganut ideologi Abad Pertengahan yang kebetulan pandai merakit rudal. Mereka luput menyadari bahwa memori religius ini telah menempa identitas kolektif bangsa Iran selama berabad-abad.
Ketika seorang pemimpin selevel Khamenei terbunuh, reaksi pertama masyarakat bukanlah ketakutan, melainkan kemarahan massal yang mengkristal menjadi solidaritas nasional. Bahkan, kelompok-kelompok oposisi internal yang selama ini vokal menentang Republik Islam pun mendadak canggung. Mereka jelas menolak jika harus berdiri satu barisan dengan pihak asing yang membombardir rumah, sekolah, dan rumah sakit di tanah air mereka sendiri.
Invasi militer justru menyempitkan ruang gerak oposisi. Sama seperti bangsa mana pun, nasionalisme warga Iran otomatis meradang dan menguat saat negara mereka menghadapi ancaman eksistensial dari luar.
Salah Baca Washington: Iran Bukan Irak atau Libya
Amerika Serikat selalu menggunakan kacamata usang dalam memandang pergantian rezim. Pengamat Timur Tengah, Tia Mariatul Kibtiah, secara gamblang menyebut Washington terlalu “pede” memprediksi keruntuhan Iran pascawafatnya Khamenei.
Washington bermimpi bisa mengulang naskah yang sama saat mereka mengacak-acak Irak, Libya, atau Venezuela. Padahal, fondasi politik Iran berdiri di atas sistem Vilayat al-Faqih. Sistem inilah yang menjadi benteng pelindung, membuat Iran imun dari skenario kekacauan ala invasi AS di masa lalu.
”Ini yang mengagetkan Amerika. Kok tidak bisa tumbang ya? Karena memang sistemnya beda,” tegas Tia Mariatul Kibtiah dalam siaran program Breaking News di Metro TV (2/3/2026).
Meski memiliki presiden dan parlemen, otoritas tertinggi di Iran berada di tangan ulama. Ketika Saddam Hussein atau Muammar Gaddafi tumbang, negara mereka langsung hancur berkeping-keping karena kekosongan kekuasaan. Di Iran, sistem sudah dirancang khusus untuk menghadapi skenario terburuk. Sebanyak 88 anggota Majelis Ahli (Assembly of Experts) langsung bergerak mengonsolidasikan kekuasaan dan menunjuk pengganti, tanpa memberi celah bagi faksi militer atau sipil untuk saling baku hantam memperebutkan takhta.
Tia juga memberikan analisis tajam terkait arah masa depan Iran. Sanksi ekonomi puluhan tahun membuat rakyat lelah, sehingga figur moderat seperti Ali Reza memiliki peluang besar untuk naik dan memulihkan ekonomi, menyingkirkan kans putra Khamenei yang dinilai minim pengalaman birokrasi meski disokong oleh Garda Revolusi (IRGC). Pada akhirnya, solidaritas pasca-serangan ini akan membuat Iran fokus membangun kemandirian, bukan malah mengemis pada Barat.
Kebodohan Bernama Kecongkakan
Kesombongan selalu membunuh nalar jernih. Sifat ini memaksa pelakunya menutup mata terhadap realitas yang rumit dan meremehkan daya tahan lawan. Mengira bahwa deretan jet tempur dan hulu ledak saja sudah cukup untuk memenangkan perang adalah sebuah delusi.
Sikap keras kepala Iran sudah dikonfirmasi. Pada 4 Maret 2026, Mohammad Mokhber, ajudan mendiang Khamenei, memukul palu godam pada harapan diplomasi AS. “Tak ada kepercayaan pada Amerika, juga tak ada alasan untuk berunding,” tegasnya di televisi nasional.
Sejarah berulang kali mencatat, kekuatan spiritual dan teologi perlawanan jauh lebih tangguh menahan gempuran zaman ketimbang baja dan mesiu. Kecongkakan memang sering tampil bersolek menyerupai kekuatan. Namun pada akhirnya, ia hanyalah wujud lain dari kebodohan yang telanjang. Dan sejujurnya, adakah manusia di panggung politik modern ini yang lebih congkak daripada Trump dan Netanyahu? ***
Daftar Pustaka
- Kibtiah, T. M. (2026, 2 Maret). Analisis Pascawafatnya Ayatollah Ali Khamenei dan Kekuatan Sistem Vilayat al-Faqih. Disampaikan dalam Program Breaking News Metro TV. Jakarta: Metro TV.
- Mokhber, M. (2026, 4 Maret). Pernyataan Resmi Sikap Iran Terhadap Amerika Serikat. Siaran Televisi Nasional Iran (IRIB).
- Chen, C. (n.d.). The Theology of Invisibility: Martyrdom and Presence in Shiite Political Thought. (Rujukan teoretis terkait konsep ketidaktampakan dan eksistensi syuhada dalam tradisi Syiah).
- Catatan Historis & Teologis: Rujukan umum pada tragedi Karbala (680 M), konsep Syahadah, dan doktrin Imam Mahdi dalam literatur Syiah Dua Belas (Twelver Shi’ism).




Tinggalkan Balasan