Dua puluh enam penasihat, hak keuangan setara menteri, dan satu larangan keras: publik tak boleh tahu apa yang mereka sampaikan kepada Presiden.
KOSONGSATU.ID — Hatta Rajasa baru saja dilantik sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ketika ia langsung memasang pagar di depan wartawan. Isi nasihat untuk Presiden Prabowo Subianto, katanya, tidak akan pernah dibuka.
“Jangan pernah bertanya nasihat apa yang diberikan kepada Presiden. Karena berdasarkan undang-undang kami dilarang untuk menyampaikan itu,” kata Hatta di Istana Negara, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Larangan itu kini melekat pada dewan yang jauh lebih gemuk, dan jauh lebih mahal. Prabowo melantik 26 anggota sekaligus, masing-masing berhak atas Rp76,5 juta per bulan.
Dikalikan 26 orang, pemerintah mengeluarkan Rp1,989 miliar setiap bulan, atau sekitar Rp23,87 miliar setahun. Angka itu baru menghitung hak keuangan, belum termasuk fasilitas setingkat menteri.
Lonjakan jumlah anggota itu berpijak pada UU Nomor 64 Tahun 2024. DPR mengesahkannya pada 19 September 2024, sebulan sebelum Prabowo dilantik, sekaligus menghapus batas lama sembilan orang.
Kini jumlah anggota ditetapkan sesuai kebutuhan Presiden dengan memperhatikan efektivitas pemerintahan. Satu hal tetap bertahan: anggota dewan dilarang menyebarluaskan isi nasihat kepada pihak mana pun.
Ongkos yang Berlipat Belasan Kali
Hak keuangan tersebut diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2026, yang berlaku sejak 27 Maret 2026. Dananya bersumber dari APBN melalui anggaran kementerian yang mengurus kesekretariatan negara.
Pada era Joko Widodo, hak keuangan anggota Wantimpres tercatat Rp17,5 juta per bulan. Dengan formasi sembilan orang, ongkos bulanannya kala itu sekitar Rp157,5 juta.
Artinya, hak keuangan per kepala meningkat lebih dari empat kali lipat. Ongkos total bulanannya melonjak hampir 13 kali.
Pratikno, mantan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), memimpin dewan sebagai ketua. Hatta Rajasa, pendamping Prabowo pada Pilpres 2014, menjabat wakil ketua.
Kursi sekretaris diisi Muhammad Qodari. Pada hari yang sama, jabatannya sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) diserahkan kepada Syahganda Nainggolan.
Anggota lainnya melintasi banyak latar. Ada ulama dan pemuka lintas agama, pengusaha seperti Chairul Tanjung, Dato’ Sri Tahir, dan Jusuf Hamka, hingga mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Anwar Usman.
Bambang Soesatyo bahkan harus meninggalkan kursinya di Komisi III DPR. Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia menyatakan partainya akan memproses pergantian antarwaktu (PAW).
Dua nama, Ignasius Jonan dan Jacky Manuputty, tidak terlihat saat pelantikan. Pratikno memastikan keduanya tetap sah sebagai anggota karena tercantum dalam Keppres Nomor 107/P Tahun 2026.
Pengkritik di Balik Pintu Tertutup
Nama yang paling menyedot perhatian adalah Rocky Gerung. Bertahun-tahun ia mengkritik pemerintah dari luar, lantang dan terbuka. Kini suaranya memasuki ruangan yang isinya tak boleh bocor.
Seusai dilantik, Rocky menyampaikan pesan khusus Prabowo: Wantimpres berkedudukan etis, bukan teknis. Tugasnya, kata Rocky, membaca ekses kebijakan dan memberi pertimbangan agar arahnya sejalan dengan visi Presiden.
Ia juga memisahkan dua hal yang kerap dicampuradukkan. “Dewan ini justru fungsinya kritis, bukan kritik ya, beda tuh. Kritis terhadap kebijakan tuh,” kata Rocky.
Bagi pengamat, susunan gemuk ini membawa pesan politik. Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai Wantimpres dan perombakan kabinet kali ini lebih kental warna konsolidasi politik.
Ia mengingatkan, dewan sebesar ini berpotensi menyulitkan koordinasi. “Mengapa presiden masih belum terlalu percaya diri padahal sudah menguasai 82 persen kursi di DPR,” kata Wijayanto kepada Kontan.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno membaca langkah ini dari sudut lain. “Mazhab (politik) Prabowo itu mazhab merangkul semua kalangan,” kata Adi.
Rocky sendiri menepis anggapan bahwa kursi barunya akan menjinakkan sikapnya. Ia menyebut pandangannya tetap berpegang pada prinsip pemutusan radikal, atau yang ia sebut radical break.
“Saya cuma pindah dari luar ke dalam, apa bedanya? Sikap saya tetap, pandangan saya tetap … Justru lebih enak di dalam,” kata Rocky.***




Tinggalkan Balasan