Momentum Hari Rumi mengingatkan kita bahwa keimanan sejati tak lepas dari kemanusiaan. Melalui jalan cinta, kita diajak meresapi makna perbedaan dan melihat bagaimana nilai luhur Pancasila selaras dengan pandangan sufistik Sang Mahaguru.
Tepat pada 30 September, putaran waktu kembali menuntun ingatan kita pada sebuah titik mula di kota Balkh tahun 1207, tatkala dunia menyambut lahirnya sang mahaguru sufi, Jalaluddin Rumi.
Momentum ini tidak sepatutnya berlalu sebagai sekadar ritus mengenang sejarah, melainkan harus menjelma menjadi jeda reflektif yang merobek kebisingan pragmatisme zaman untuk kembali meresapi kedalaman makna cinta abadi.
Di tengah laju rutinitas urban yang serba cepat dan melelahkan—seperti hiruk-pikuk komuter Jabodetabek yang berlomba dengan waktu membelah kemacetan—nilai-nilai spiritualitas kerap terjebak pada cangkang formalitas belaka.
Padahal, bait-bait Rumi hadir laksana angin sejuk yang meniupkan ruh persaudaraan; mengetuk sanubari setiap insan agar menanggalkan jubah keangkuhan lalu menyatu dalam tarian harmoni kemanusiaan yang bersumber dari cahaya Ilahi.
Bagi Rumi, memisahkan keimanan dari kemanusiaan sama halnya dengan mencabut nyawa dari raga. Keduanya harus manunggal, menyatu dalam sebuah ritme kehidupan yang memanusiakan manusia.
Tarian Kosmis Sang Pencinta
Rumi meyakini bahwa Tuhan menciptakan alam semesta ini murni atas dasar cinta. Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk menyelami realitas ketuhanan adalah dengan mencintai-Nya sepenuh hati.
Keimanan yang matang senantiasa menuntut kita untuk menundukkan ego atau nafs yang gemar menguasai dan menghakimi sesama. Ketika dinding keakuan perlahan runtuh, yang tersisa di dalam palung hati hanyalah pendar cahaya Ilahi, membawa manusia pada kehidupan sejati bersama-Nya.
Keimanan paripurna dalam kacamata sang sufi tidak dibangun di atas fondasi ketakutan akan siksa neraka atau ketamakan akan nikmat surga, melainkan berakar murni dari kerinduan jiwa untuk menyatu kembali dengan Sang Pencipta.
Dalam kerinduan spiritual inilah lahir intisari sesungguhnya, di mana kecintaan kepada Tuhan selalu bermanifestasi nyata melalui pelukan kasih sayang kepada segenap makhluk ciptaan-Nya.
Menjinakkan Serigala dalam Diri
Realitas kemanusiaan kita sejatinya menyimpan potensi ganda yang saling bertarung setiap harinya. Rumi secara lugas melukiskan kontradiksi batin ini; terkadang manusia menjelma sebuas serigala yang siap menerkam, namun di lain waktu ia bisa tampil seindah pesona Nabi Yusuf.
Dua potensi terang dan gelap ini berjalan beriringan sebagai ujian sekaligus ruang kebebasan yang Tuhan anugerahkan agar kita memilih.
Menariknya, Rumi memandang luka, lara, dan segala derita yang menyapa kehidupan bukanlah bentuk kemurkaan langit, melainkan undangan rindu dari Yang Maha Pengasih.
Ia mengingatkan bahwa derita adalah celah masuknya cahaya Ilahi ke dalam jiwa yang gulita. Melalui tungku penderitaan, hati manusia disucikan, melembutkan keangkuhan yang keras kepala, dan menyadarkan kita akan kerentanan sebagai hamba.
Kesadaran inilah yang kelak menumbuhkan keluhuran empati, menggerakkan tangan kita untuk saling menolong tanpa memandang rupa atau latar belakang.
Membaca Pancasila Melalui Rumi
Lanskap keberagaman Indonesia dewasa ini sering kali didera riak perbedaan, bahkan muncul kelompok yang sesekali menolak Pancasila dengan dalih tidak sejalan dengan purifikasi agama.
Namun, jika kita menyelami ruh dasar negara ini—khususnya sila Ketuhanan Yang Maha Esa—memakai kacamata sufistik Rumi, kita segera menemukan titik temu yang teramat agung.
Sila pertama tidak semata menjamin kebebasan memeluk agama, tetapi turut merawat etika kemasyarakatan di ruang publik agar terus berjalan harmonis.
Rumi mengumpamakan keragaman agama layaknya lampu-lampu yang berbeda wujud fisiknya, entah terbuat dari tembikar tanah liat atau kaca berkilau, namun cahaya yang memancar darinya tetaplah tunggal dan berasal dari Sumber yang sama.
Pemahaman inklusif ini sangat beresonansi dengan napas toleransi Pancasila yang mengakui keberagaman cara mengimani Tuhan. Bagi Rumi, perbedaan keyakinan adalah kehendak mutlak Ilahi yang menuntut kita untuk merawatnya dengan cinta, bukan memberangusnya dengan kebencian.
Dengan menghidupkan cinta, Pancasila menjelma menjadi pelindung peradaban yang otentik, menyatukan kepingan perbedaan dalam payung teduh kebangsaan.
Agama dan keimanan, pada puncak tertingginya, adalah sepasang sayap yang membawa manusia terbang merdeka menuju keabadian cinta. Rentetan hafalan dalil dan kepiawaian merangkai kata tentang Tuhan tidak akan pernah cukup jika gagal melahirkan akhlak yang meneduhkan lingkungan sekitar.
Rumi berbisik melintasi abad, mengingatkan kita untuk tidak sekadar membebek pada mereka yang piawai menceritakan Tuhan, tetapi ikutilah mereka yang tangannya sanggup membuat kita merasakan sentuhan kasih Tuhan melalui keteladanan hidup.
Mari kita rawat nyala kemanusiaan di negeri ini. Sebab hanya dengan cinta, iman merengkuh ruh sejatinya, dan bangsa ini menemukan jangkar kedamaian yang abadi.***
Daftar Rujukan
- Ahmad (2019). Konsep Cinta Ilahi Rumi dan Pengadopsiannya dalam Pengajaran Sufisme di Pesantren Indonesia. Jurnal Studi Islam.
- Aslan (2020). Relevansi Pemikiran Rumi dalam Konteks Psikologi Modern. International Journal of Sufi Studies.
- Baldick (2021). Imaginary Homelands. Membahas Pengaruh Puisi Rumi dalam Terapi dan Pengembangan Diri Modern.
- Barks, Coleman (1995). The Essential Rumi. HarperOne.
- Chittick, William C. (2012). Karya Epistemologi dan Pemahaman Ontologi Rumi tentang Pengetahuan, Kebijaksanaan, dan Cinta Ilahi.
- Harvey, Andrew (1996). Pengaruh Ajaran Spiritual Rumi pada Praktik Terapi dan Pengembangan Diri Modern.
- Lewis, Franklin D. (2000). Rumi: Past and Present, East and West. Oneworld Publications.
- Lewis, Franklin D. (2020). Dampak Puisi Rumi Terhadap Perkembangan Sastra Sufi di Persia dan Anatolia. Journal of Sufi Studies.
- Nicholson, Reynold A. (2001). The Masnavi dan Rumi: Poet and Mystic. Oneworld Publications.
- Schimmel, Annemarie (1992). I am Wind, You are Fire: The Life and Work of Rumi. Shambhala Publications. Mengkaji potensi kebaikan, keburukan, dan kebebasan individu dalam pandangan Rumi.




Tinggalkan Balasan