Masuknya Pengaruh Islam

Di masa Kertawijaya, Islam mulai mendapat tempat dalam lingkar elite Majapahit. Selain memiliki penasihat dan pengikut Muslim, dua istrinya juga beragama Islam. Salah satu putranya, Raden Patah, kemudian menjadi Adipati Demak. Majapahit—yang dikenal sebagai kerajaan Hindu-Buddha—perlahan mulai membuka diri terhadap pengaruh Islam.

Namun, setelah Kertawijaya wafat, api konflik kembali menyala. Tahta diberikan kepada Bhre Pamotan, sang menantu, bukan anak kandung. Ketidakpuasan meledak.

Para anak ‘sah’ Kertawijaya menolak dan melakukan perlawanan. Bhre Pamotan pun jatuh dalam tekanan. Pada tahun kedua pemerintahannya (1453), ia kehilangan akal dan mengakhiri hidupnya dengan terjun ke laut.

Selama tiga tahun, Majapahit mengalami kekosongan kekuasaan. Baru pada 1456, Bhre Wengker—putra Kertawijaya—naik takhta. Ia berkuasa sepuluh tahun.

Sepeninggalnya, putranya Dyah Suraprabhawa, atau Bhre Pandansalas, naik tahta tahun 1466 M dengan gelar Sri Prabu Singhawikramawarddhana.

Namun, kedamaian tak bertahan lama. Tahun 1468, Bhre Kertabumi, putra Bhre Pamotan, melancarkan pemberontakan. Ia berhasil mengusir Bhre Pandansalas dan mengambil alih kekuasaan di Trowulan, sementara Pandansalas mengungsi ke Daha (Kediri).

Kertabumi kemudian mendeklarasikan diri sebagai Raja Majapahit.

Perpecahan kian parah. Keturunan Sri Prabu Kertawijaya menolak mengakui Kertabumi dan mengangkat Dyah Ranawijaya—putra Bhre Pandansalas—sebagai raja tandingan. Majapahit pun terbagi dua.

Pada 1478 M (Saka 1400), pertikaian mencapai klimaks: Girindrawardhana Dyah Ranawijaya menggempur Trowulan dan membunuh Bhre Kertabumi. Peristiwa inilsh yang dikenang dalam Pararaton dan Serat Kandha sebagai momen “sirna ilang kertaning bumi”—hilangnya kemuliaan bumi.

Girindrawardhana mencoba menyatukan kerajaan kembali. Namun, upayanya gagal. Banyak daerah sudah mandiri, tak lagi bergantung pada istana pusat.

Seiring perpindahan ibu kota ke Daha, Majapahit menjadi kerajaan agraris yang terkunci di daratan. Dalam analisis Agus Sunyoto, ini menjadikan Majapahit tak relevan lagi sebagai kekuatan maritim.

Narasi lain datang dari Slamet Muljana. Dalam risetnya, disebutkan bahwa Kertabumi (1474–1478) bukan langsung dibunuh, melainkan ditawan dengan hormat oleh Demak.

Kota Majapahit tetap berdiri dan sempat diperintah oleh orang Tionghoa bernama Noo Lay Wa hingga 1486. Setelah itu, Majapahit dikendalikan Girindrawardhana, yang juga menantu Kertabumi, dengan kekuasaan meliputi Majapahit, Dhaha, dan Jenggala.

Namun, Girindrawardhana melakukan langkah keliru: ia menjalin aliansi dengan Portugis dan Tiongkok. Hal ini memicu penolakan keras dari Demak. Pada tahun 1527, pasukan Demak menyerbu dan menghancurkan sisa kekuatan Majapahit.

Di titik itulah, sejarah mencatat kematian Majapahit. Tapi bukan karena serangan Demak semata, melainkan karena Majapahit telah lebih dulu rapuh dari dalam: oleh perang saudara, pengkhianatan, pemberontakan, dan ketidakmampuan menerima perubahan zaman.bersambung