Tuduhan Raden Patah menyerang dan menggulingkan Majapahit dibantah banyak sejarawan. Narasi anak durhaka itu bersumber dari naskah kolonial dan penafsiran sesat pasca-keruntuhan Majapahit.


KOSONGSATU.ID—Raden Patah, Raja pertama Kesultanan Demak, selama ini sering digambarkan sebagai anak durhaka yang menyerang ayah kandungnya sendiri, Prabu Brawijaya dari Majapahit. Ia dituduh menikam dari belakang, merebut tahta, dan menggulingkan kerajaan yang telah membesarkannya.

Tuduhan ini diperkuat oleh narasi dalam Babad Kadhiri dan Serat Darmagandhul, dua teks yang ditulis jauh setelah Majapahit runtuh dan sarat distorsi kolonial.

Narasi ini tidak hanya menyudutkan Raden Patah, tetapi juga menempatkannya sebagai biang keladi kehancuran budaya Jawa. Bahkan, paranormal Permadi (almarhum) pernah menuding bahwa Raden Patah harus bertanggung jawab atas berbagai bencana yang menimpa Indonesia karena “dosa masa lalu”-nya yang menghancurkan Majapahit.

“Gara-gara Raden Patah, negara ini sering kena bencana,” ujarnya.

Penulis seperti Damar Shasangka dalam bukunya Sabdapalon Pudarnya Surya Majapahit menggambarkan Raden Patah sebagai pemimpin Tionghoa Muslim yang melanjutkan “misi purifikasi” Islam melalui Demak, menyerang kampung-kampung pedalaman Jawa, dan menggulingkan kekuasaan Majapahit atas nama pemurnian agama.

Narasi ini semakin diperkuat dengan framing bahwa keruntuhan Majapahit adalah perang antar-agama—antara Hindu-Buddha dan Islam. Islam dicap sebagai perusak tatanan budaya adiluhung Jawa, penghancur seni wayang, gamelan, dan kitab-kitab lama.

Namun, menurut banyak sejarawan, tuduhan ini tidak berdasar dan lahir dari penafsiran yang keliru. Sejarawan Agus Sunyoto menegaskan bahwa keruntuhan Majapahit tidak disebabkan oleh Islam atau penyerangan Demak, melainkan konflik internal berkepanjangan, perebutan kekuasaan, dan keruntuhan sistem kerajaan yang gagal mengurus rakyat.

Agus Sunyoto juga mengkritik ketidakcakapan penulis Barat dalam memahami naskah-naskah Jawa kuno dan Bahasa Kawi. Hal ini menyebabkan banyak kesalahan tafsir.

Contoh paling fatal adalah kata “Demak” yang dalam Bahasa Kawi berarti “tanah hadiah dari raja”, tetapi dimaknai secara salah sebagai “ndemak” (menerkam). Tafsir keliru ini melahirkan narasi bahwa Raden Patah menyerang Majapahit secara tiba-tiba dan kejam.

Kisah “anak durhaka” ini juga ditemukan dalam Babad Kadhiri, disusun oleh Mas Ngabehi Purbawijaya dan Mas Ngabehi Mangunwijaya:

“Raden Patah anglumpukaken bala saking wetan… nyerang Majapahit. Brawijaya tan kersa perang… Raden Patah ngrebat Majapahit. Sang Prabu Brawijaya tapa ing Gunung Lawu. (Raden Patah mengumpulkan pasukan dari wilayah timur… menyerang Majapahit. Brawijaya tidak bersedia berperang… Raden Patah merebut Majapahit. Sang Prabu Brawijaya bertapa di Gunung Lawu).”

Sementara Serat Darmagandhul yang ditulis sekitar tahun 1908 dan diterbitkan oleh Tan Khoen Swie pada 1922, lebih tajam dan bernada anti-Islam:

“Para wali… wayang dirusak, gamelan dipatèni, kitab-kitab Jawi dibuwang… Ratu Majapahit digulingaké, agama diganti karo agama Muhammad. (Para wali… wayang dirusak, gamelan dimatikan, kitab-kitab Jawa dibuang… Raja Majapahit digulingkan, agama diganti dengan agama Muhammad).

Padahal, menurut catatan sejarah yang lebih netral, Wali Songo dan Raden Patah menyebarkan Islam melalui jalur budaya dan dakwah damai. Tuduhan bahwa mereka menghancurkan budaya Jawa lebih merupakan propaganda pasca-keruntuhan Majapahit yang dilanggengkan oleh penulis kolonial dan orientalis.

Kesimpulannya, tuduhan terhadap Raden Patah sebagai pengkhianat dan penghancur Majapahit tidak memiliki dasar sejarah yang sahih. Narasi itu lahir dari penyelewengan makna, distorsi naskah, dan tafsir kolonial. Meluruskan sejarah menjadi penting agar generasi kini tidak menjadi korban penyesatan sejarah dan permusuhan berbasis mitos.—Selesai—