Frasa “Sirna Ilang Kertaning Bumi” kerap dimaknai Majapahit runtuh karena serangan Demak. Namun, sejarawan Agus Sunyoto mengkritisi makna ganda kata “sirna” dan “ilang”—yang bisa menimbulkan tafsir lain.
KOSONGSATU.ID—Banyak narasi yang menyebut Majapahit runtuh setelah diserang Demak—yang notabene masih memiliki hubungan keluarga. Hingga akhirnya muncul kesan bahwa Demak adalah kerajaan yang ‘durhaka’ terhadap pendahulunya.
Ini kurang bagus bagi citra Demak, sekaligus Islam yang direpresentasikan kerajaan tersebut.
Untuk itu, redaksi secara berseri bakal mengurai fakta sejarah apa yang sebenarnya terjadi, yang menyebabkan keruntuhan Majapahit. Penelusuran berdasarkan bukti-bukti otentik dan sumber-sumber yang tervalidasi.
Rujukan-rujukan Lama yang Dianggap Kurang Kritis
Keyakinan bahwa Majapahit ditaklukkan oleh Demak bersumber dari naskah-naskah tradisional, seperti Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, serta catatan sejarah asing seperti The History of Java karya Thomas Stamford Raffles. Juga dari laporan Residen Poortman mengenai kronik Tiongkok dari Kelenteng Sam Po Kong Semarang dan Talang Cirebon.
Dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda, disebutkan bahwa Raden Patah, penguasa Demak, menyerang Majapahit pada tahun 1478 M atau 1400 Saka. Peristiwa itu disebut sebagai Perang Sudarma Wisuta, yang diklaim menjadi momen akhir riwayat Kerajaan Majapahit.
Raffles, dalam bukunya, mengafirmasi narasi ini, dan menyebut tahun 1400 Saka sebagai tahun runtuhnya Majapahit—merujuk pada sumber Serat Kanda.
Sejarawan Slamet Muljana dalam bukunya Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara berpendapat senada. Ia menyebut bahwa Majapahit sirna akibat gempuran Demak, merujuk pada berita-berita tradisi dan rangkuman laporan Poortman yang mengakses kronik Tiongkok dari kuil-kuil Cina kuno di Jawa.
Kronik Tiongkok dan Catatan Portugis
Dari sumber-sumber kronik Cina dan catatan bangsa Portugis, diketahui bahwa perang Majapahit-Demak tidak terjadi hanya sekali.
Kronik Cina itu menyebutkan bahwa pada tahun 1517 M, seorang tokoh bernama Pa Bu Ta La—yang diidentifikasi sebagai Girindrawardhana—bersekutu dengan bangsa asing dari Ma Lok Sa (kemungkinan besar Portugis dari Malaka). Tindakan ini memicu kemarahan Jin Bun alias Raden Patah.
Demak pun menyerang Majapahit. Meski pasukan Jin Bun menang, Pa Bu Ta La diampuni, karena adik Jin Bun merupakan istri Pa Bu Ta La.
Sumber Portugis turut mencatat adanya pertempuran antara Majapahit dan Demak.
Seorang bupati Majapahit dari Tuban bernama Pate Vira disebut memimpin perlawanan saat itu. Ketika kemudian Sultan Trenggono wafat, kekacauan suksesi di tubuh Demak dimanfaatkan Pa Bu Ta La untuk kembali menjalin kerja sama dengan Portugis. Ia ingin Majapahit kembali menguasai Demak dan menolak menjadi bawahannya.
Perang kedua disebut terjadi pada 1524 M. Kali ini, Demak dipimpin oleh Sunan Ngundung, sedangkan Majapahit dipimpin oleh Raden Kusen. Sunan Ngundung—yang juga ayah dari Sunan Kudus—gugur dalam pertempuran tersebut.
Pertempuran terakhir terjadi pada 1527 M, ketika Sunan Kudus memimpin pasukan Demak dan berhasil mengalahkan Majapahit. Raden Kusen ditawan, tetapi diperlakukan dengan hormat karena merupakan mertua Sunan Kudus.




Tinggalkan Balasan