Ketika Portugis merapat di Malaka, mereka menyita peta mualim Jawa — mencantumkan Brasil dan Jepang, jauh sebelum Eropa “menemukannya”.


KOSONGSATU.ID — Pada abad ke-14, seorang rahib Italia bernama Odorico da Pordenone memasuki istana yang mungkin paling megah yang pernah ia saksikan seumur hidup. Anak tangga dan dinding interiornya dilapisi lempengan emas dan perak. Di tiap sudut berdiri patung kesatria dengan mahkota bertahtakan permata. Bukan Roma. Bukan Paris. Itu adalah istana Majapahit, di Pulau Jawa.

Odorico tidak menulis fiksi. Catatan perjalanannya, I viaggi di Frate Odorico, adalah dokumen sejarah yang dicatat antara 1318–1330 Masehi — dan selama berabad-abad, catatan itu hampir terlupakan, terkubur di balik narasi penjelajahan yang lebih sering menempatkan Eropa sebagai pusatnya.

Kapal yang Membuat Portugis Gentar

Di lautan, Majapahit bukan sekadar kerajaan agraris yang kebetulan punya pantai. Armadanya mengandalkan kapal Jung — atau Djong — yang oleh penjelajah Portugis Tomé Pires dan Gaspar Correia digambarkan sebagai raksasa laut: panjang hingga 100 meter, bobot hingga 1.000 ton. Kapal terbesar Portugis tampak kerdil di sebelahnya.

Yang lebih mengesankan bukan hanya ukurannya. Jung Jawa dibangun tanpa satu pun paku besi — seluruh strukturnya disatukan oleh pasak kayu, teknik yang membuat lambung kapal lentur mengikuti gelombang besar tanpa retak. Lambungnya terdiri dari empat hingga tujuh lapis papan kayu jati, cukup tebal untuk menahan gempuran meriam. Ketika Portugis akhirnya menguasai Malaka pada 1511, mereka tidak sekadar merebut pelabuhan — mereka mewarisi jalur perdagangan yang telah dibangun pelaut Nusantara selama berabad-abad.

Ilustrasi Kapal Majapahit dari edisi tahun 1617 karya Willem Lodewijcksz (atau G.M.A.W.L): Historie van Indien- Pindaian dari karya asli – Lodewijcksz, Willem (1617) via wikipedia.org

Peta yang Hilang di Selat Malaka

Dalam perebutan itu, Gubernur Afonso de Albuquerque menyita sebuah benda yang lebih berharga dari emas: peta laut milik seorang mualim Jawa. Peta itu, menurut catatan Albuquerque sendiri, mencantumkan rute dari Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika, menyeberang ke Brasil, hingga mencapai kepulauan Jepang. Sebuah peta dunia — jauh sebelum dunia itu “ditemukan” oleh Barat.