Ketika Portugis merapat di Malaka, mereka menyita peta mualim Jawa — mencantumkan Brasil dan Jepang, jauh sebelum Eropa “menemukannya”.
KOSONGSATU.ID — Pada abad ke-14, seorang rahib Italia bernama Odorico da Pordenone memasuki istana yang mungkin paling megah yang pernah ia saksikan seumur hidup. Anak tangga dan dinding interiornya dilapisi lempengan emas dan perak. Di tiap sudut berdiri patung kesatria dengan mahkota bertahtakan permata. Bukan Roma. Bukan Paris. Itu adalah istana Majapahit, di Pulau Jawa.
Odorico tidak menulis fiksi. Catatan perjalanannya, I viaggi di Frate Odorico, adalah dokumen sejarah yang dicatat antara 1318–1330 Masehi — dan selama berabad-abad, catatan itu hampir terlupakan, terkubur di balik narasi penjelajahan yang lebih sering menempatkan Eropa sebagai pusatnya.
Kapal yang Membuat Portugis Gentar
Di lautan, Majapahit bukan sekadar kerajaan agraris yang kebetulan punya pantai. Armadanya mengandalkan kapal Jung — atau Djong — yang oleh penjelajah Portugis Tomé Pires dan Gaspar Correia digambarkan sebagai raksasa laut: panjang hingga 100 meter, bobot hingga 1.000 ton. Kapal terbesar Portugis tampak kerdil di sebelahnya.
Yang lebih mengesankan bukan hanya ukurannya. Jung Jawa dibangun tanpa satu pun paku besi — seluruh strukturnya disatukan oleh pasak kayu, teknik yang membuat lambung kapal lentur mengikuti gelombang besar tanpa retak. Lambungnya terdiri dari empat hingga tujuh lapis papan kayu jati, cukup tebal untuk menahan gempuran meriam. Ketika Portugis akhirnya menguasai Malaka pada 1511, mereka tidak sekadar merebut pelabuhan — mereka mewarisi jalur perdagangan yang telah dibangun pelaut Nusantara selama berabad-abad.

Peta yang Hilang di Selat Malaka
Dalam perebutan itu, Gubernur Afonso de Albuquerque menyita sebuah benda yang lebih berharga dari emas: peta laut milik seorang mualim Jawa. Peta itu, menurut catatan Albuquerque sendiri, mencantumkan rute dari Tanjung Harapan di ujung selatan Afrika, menyeberang ke Brasil, hingga mencapai kepulauan Jepang. Sebuah peta dunia — jauh sebelum dunia itu “ditemukan” oleh Barat.
Nasib peta itu tragis. Kapal Flor de la Mar, yang membawa rampasan perang Portugis dari Malaka, karam di perairan Sumatera pada malam 20 November 1511. Peta itu tenggelam bersama ratusan artefak lain yang mungkin akan menulis ulang sejarah perjalanan umat manusia. Yang tersisa hanya kesaksian dalam surat Albuquerque kepada Raja Portugal — cukup sebagai bukti, tapi tidak cukup untuk mengembalikan apa yang telah hilang.
Hingga Pinggir Antartika
Pelaut Italia Lodovico di Varthema mencatat kesaksian seorang nakhoda Jawa yang pernah berlayar sangat jauh ke selatan — ke perairan yang begitu dingin, siang hanya berlangsung empat jam. Para ahli geografi modern menyimpulkan bahwa deskripsi itu menunjuk pada garis lintang 62 derajat selatan: tepian Samudra Selatan, perbatasan dengan Antartika. Magellan baru melewati ujung Amerika Selatan pada 1520. Jika kesaksian Varthema akurat, pelaut Jawa sudah di sana lebih dulu.
Di arah sebaliknya — ke barat — jejak mereka terbukti lebih pasti. Penelitian genetik dan linguistik modern mengonfirmasi bahwa leluhur masyarakat Madagaskar berasal dari Kalimantan. Sekitar 90 persen kosakata bahasa Malagasi bersumber dari bahasa Ma’anyan di lembah Sungai Barito. Suatu bangsa, ribuan tahun silam, mengarungi separuh keliling bumi dengan kapal kayu — dan menetap di sana.
Keruntuhan dari Dalam
Sejarawan Portugis João de Barros mencatat bangsa Jawa sebagai bangsa pemberani yang pantang dihina. Raffles, dalam The History of Java, memuji karakter asli masyarakat Jawa yang ramah dan jujur — sebelum ditindas oleh penjajahan. Namun kebesaran Majapahit tidak runtuh karena serangan armada asing. Ia hancur dari dalam: konflik suksesi, perang saudara, dan fragmentasi kekuasaan yang perlahan menggerus fondasi yang dibangun selama dua abad.
Geger Sepehi pada 1812 menambah luka. Pasukan Inggris di bawah komando Raffles menjarah Keraton Yogyakarta, mengangkut lebih dari 7.000 manuskrip kuno dan perhiasan kerajaan ke luar negeri. Ingatan kolektif yang seharusnya menjadi pijakan identitas bangsa — tercabut, dikemas, dan disimpan di lemari arsip benua lain.
Yang tersisa bukan hanya nostalgia. Sejarah Majapahit adalah peringatan keras tentang bagaimana peradaban besar bisa runtuh bukan karena musuh luar, melainkan karena ketidakmampuan menjaga kohesi dari dalam. Pelaut Jawa pernah menggambar peta dunia. Pertanyaannya kini bukan di mana peta itu — melainkan apakah kita masih ingat cara membacanya.***
Daftar Rujukan
- Odorico da Pordenone. I viaggi di Frate Odorico (c. 1330). Dikutip dalam: Pena Katolik — Majapahit dalam Catatan Odorico Mattiuzzi
- Tomé Pires. Suma Oriental (1512–1515). Dikutip dalam: Detik Edu — Jung Jawa, Kapal Megah Nusantara dari Abad ke-9
- Wikipedia Indonesia — Djong (kapal)
- KambaNews — Pelayaran Nusantara ke Antartika (berdasarkan catatan Lodovico di Varthema, Itinerario, 1510)
- Wikipedia (Inggris) — Flor de la Mar
- The Conversation Indonesia — Cerita Orang Banjar Menjadi Leluhur Orang Madagaskar dan Komoro
- Kompas.com — Geger Sepehi: Penyerbuan Keraton Yogyakarta oleh Inggris
- Nugroho, Irawan Djoko. Majapahit Peradaban Maritim. Jakarta: Suluh Nusantara, 2011.
- Raffles, Thomas Stamford. The History of Java. London, 1817.




Tinggalkan Balasan