Naskah pengobatan Bugis ini merekam ramuan, cara baca tubuh, dan peran sanro yang kini mulai dibaca ulang lewat sains modern.


KOSONGSATU.ID – Selama ini, banyak naskah kuno dipinggirkan hanya sebagai warisan budaya. Ia dianggap menarik secara sejarah, tetapi jauh dari dunia ilmu pengetahuan modern.

Nasib serupa lama menempel pada Lontara Pabbura. Padahal, manuskrip pengobatan tradisional Bugis ini merekam pengetahuan tentang tanaman obat, cara merawat tubuh, hingga peran penyembuh dalam masyarakat.

Ketika naskah itu dibaca ulang melalui kajian farmasi, yang tampak bukan sekadar jejak tradisi. Yang muncul justru sistem pengetahuan empiris yang tersusun dan diwariskan lintas generasi.

Upaya membawa manuskrip itu ke ruang akademik modern juga sudah dilakukan. Salah satu pijakannya adalah buku Dari Lontara Pabbura ke Pharmaceutical Care yang diterbitkan kalangan Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin pada 2021.

Dalam publikasi itu, Lontara Pabbura diposisikan sebagai bukti pemanfaatan tumbuhan obat dalam tradisi Sulawesi Selatan. Dari sana, naskah ini mulai dibaca bukan hanya sebagai artefak budaya, tetapi juga sebagai arsip pengetahuan kesehatan.

Dari Ramuan ke Pengetahuan Empiris

Yang membuat Lontarak Pabbura penting bukan semata karena ia tua. Nilainya justru terletak pada cara masyarakat Bugis membangun pengetahuan kesehatan dari pengamatan panjang terhadap alam.

Naskah ini tentu bukan obat modern dalam pengertian laboratorium hari ini. Namun, ia dapat dibaca sebagai sumber pengetahuan awal, tempat pengalaman meracik, mengamati, dan menguji manfaat tanaman diwariskan dari satu generasi ke generasi lain.

Irisan dengan sains modern mulai terlihat ketika beberapa bahan herbal dalam tradisi lama dibandingkan dengan temuan farmakologi mutakhir. Di sinilah Lontarak Pabbura menjadi relevan untuk dibaca ulang.

Salah satu contohnya adalah kurkumin pada kunyit. Dalam literatur ilmiah, kurkumin dikenal memiliki aktivitas antiinflamasi dan telah lama diteliti karena potensinya dalam berbagai proses biologis yang berkaitan dengan peradangan.

Sejumlah kajian juga mencatat aktivitas antimikroba dari kurkumin. Meski begitu, efektivitas klinisnya tetap bergantung pada formulasi, dosis, dan pengujian lanjutan yang ketat.

Karena itu, ketika kunyit dipakai dalam tradisi herbal untuk keluhan tertentu, ada titik temu awal yang dapat dijelaskan oleh sains modern. Bukan berarti semua praktik lama otomatis benar, tetapi ada dasar biologis yang patut diteliti lebih jauh.

Contoh lain terlihat pada eugenol dalam cengkih. Dalam literatur medis, senyawa ini dikenal karena sifat analgesik, antiinflamasi, dan anestetik lokalnya.

Penggunaan eugenol dalam dunia kedokteran gigi juga telah lama terdokumentasi. Senyawa ini dipakai, antara lain, dalam bahan perawatan sementara dan penanganan nyeri.

Fakta itu tidak serta-merta membenarkan seluruh resep tradisional. Namun, temuan ini menunjukkan bahwa sebagian bahan yang diwariskan dalam praktik pengobatan lama memang memiliki dasar biologis yang bisa diterangkan hari ini.

Sanro, Tubuh, dan Cara Pandang tentang Sakit

Kekuatan Lontarak Pabbura tidak berhenti pada daftar tanaman obat. Naskah dan tradisi yang mengitarinya juga merekam cara pandang tentang tubuh, keseimbangan, dan sakit.

Dalam kajian tentang sanro dan ramuan dalam Lontara Pabbura, praktik pengobatan tradisional Sulawesi Selatan digambarkan sebagai bagian dari pengetahuan masyarakat yang lahir dari pengalaman langsung dengan tumbuhan obat di sekitarnya.

Artinya, pengobatan dalam tradisi Bugis tidak hanya bicara soal bahan. Ia juga menyimpan cara pandang tentang hubungan tubuh manusia dengan alam, lingkungan, dan pengalaman hidup sehari-hari.

Figur sanro sendiri juga tidak sesederhana stereotip pengobat tradisional yang kerap dilekatkan selama ini.

Dalam disertasi Universitas Hasanuddin, sanro dipetakan ke dalam beberapa kategori. Salah satunya adalah sanro pabbura-bura, yakni penyembuh yang berfokus pada pengobatan berbasis ramuan tanaman.

Pembacaan seperti ini membantu menempatkan sanro secara lebih proporsional. Ia dapat dipahami sebagai bagian dari sistem pengetahuan lokal yang bekerja dalam konteks sosial dan budaya masyarakatnya.

Karena itu, Lontarak Pabbura lebih tepat dipahami sebagai jembatan. Di satu sisi, ia adalah warisan pengetahuan Bugis yang tumbuh dari pengalaman panjang hidup bersama alam.

Di sisi lain, ia memberi bahan mentah bagi sains modern untuk menilai mana yang benar-benar efektif, mana yang masih berupa dugaan, dan mana yang harus diuji ulang lewat metodologi farmakologi, toksikologi, dan klinis.

Posisi seperti ini justru membuat manuskrip itu lebih kuat. Ia dihormati sebagai arsip pengetahuan, tanpa harus jatuh pada romantisasi berlebihan.

Pada akhirnya, Lontarak Pabbura penting bukan karena ia menawarkan jawaban final. Nilainya justru terletak pada kemampuannya membuka pintu pembacaan baru terhadap pengetahuan lokal.

Ia memperlihatkan bahwa masyarakat Bugis pernah membangun pengetahuan kesehatan dengan kesungguhan observasi, kedekatan dengan tumbuhan, dan pengalaman hidup yang diwariskan.

Tugas sains modern bukan menertawakan warisan itu. Tugasnya adalah menguji dengan ketat agar yang benar-benar bermanfaat dapat dibawa ke dunia kesehatan masa kini.***


Rujukan Tambahan:

  • Abbas, Irwan, Hasmawati, & Nurfan, Roy. (2024). Lontarak Pabbura: Kearifan Lokal Medis Manusia Bugis. Kibas Cenderawasih, 21(2), 133-152.
  • Hamid, Abu, dkk. (1986). Lontarak Pabbura: Suatu Kajian tentang Sistem Medis Orang Bugis di Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan (La Galigo), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Qaffah, Rosa Maulidia. (2022). Karakteristik Sosial Budaya Kesehatan Masyarakat Suku Bugis Bone. Makassar: Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin.
  • Saud, Anshar, dkk. (2021). Dari Lontarak Pabbura Ke Pharmaceutical Care: Refleksi Akademisi dan Alumni Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin dalam Penanganan Covid-19. Makassar: Unhas Press.