Karena itu, Lontarak Pabbura lebih tepat dipahami sebagai jembatan. Di satu sisi, ia adalah warisan pengetahuan Bugis yang tumbuh dari pengalaman panjang hidup bersama alam.

Di sisi lain, ia memberi bahan mentah bagi sains modern untuk menilai mana yang benar-benar efektif, mana yang masih berupa dugaan, dan mana yang harus diuji ulang lewat metodologi farmakologi, toksikologi, dan klinis.

Posisi seperti ini justru membuat manuskrip itu lebih kuat. Ia dihormati sebagai arsip pengetahuan, tanpa harus jatuh pada romantisasi berlebihan.

Pada akhirnya, Lontarak Pabbura penting bukan karena ia menawarkan jawaban final. Nilainya justru terletak pada kemampuannya membuka pintu pembacaan baru terhadap pengetahuan lokal.

Ia memperlihatkan bahwa masyarakat Bugis pernah membangun pengetahuan kesehatan dengan kesungguhan observasi, kedekatan dengan tumbuhan, dan pengalaman hidup yang diwariskan.

Tugas sains modern bukan menertawakan warisan itu. Tugasnya adalah menguji dengan ketat agar yang benar-benar bermanfaat dapat dibawa ke dunia kesehatan masa kini.***


Rujukan Tambahan:

  • Abbas, Irwan, Hasmawati, & Nurfan, Roy. (2024). Lontarak Pabbura: Kearifan Lokal Medis Manusia Bugis. Kibas Cenderawasih, 21(2), 133-152.
  • Hamid, Abu, dkk. (1986). Lontarak Pabbura: Suatu Kajian tentang Sistem Medis Orang Bugis di Sulawesi Selatan. Ujung Pandang: Bagian Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Sulawesi Selatan (La Galigo), Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
  • Qaffah, Rosa Maulidia. (2022). Karakteristik Sosial Budaya Kesehatan Masyarakat Suku Bugis Bone. Makassar: Prodi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin.
  • Saud, Anshar, dkk. (2021). Dari Lontarak Pabbura Ke Pharmaceutical Care: Refleksi Akademisi dan Alumni Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin dalam Penanganan Covid-19. Makassar: Unhas Press.