Kiai Muhammad Nur Salim membuktikan bahwa keteguhan iman ulama tak mampu diredam tembok besi penjajah.
KOSONGSATU.ID—Kabupaten Ngawi menyimpan narasi sejarah yang kuat mengenai garis linier antara perjuangan kemerdekaan dan spiritualitas Islam. Di jantung Benteng Van Den Bosch—atau yang lebih dikenal sebagai Benteng Pendem—terdapat sebuah anomali sejarah: sebuah makam ulama di tengah markas militer Belanda.
Makam tersebut adalah milik Kiai Muhammad Nur Salim, seorang murid sekaligus pengikut setia Pangeran Diponegoro, yang menjadi saksi bisu kekejaman sekaligus ketakutan penjajah terhadap karisma ulama.
Kehadiran makam di dalam bangunan yang dibangun pada tahun 1839 hingga 1845 ini bukan tanpa alasan. Secara arkeologis dan historis, keberadaannya menandakan bahwa perlawanan rakyat di bawah panji agama begitu masif pasca-Perang Jawa (1825-1830), sehingga Belanda merasa perlu “mengurung” pengaruh sang tokoh, bahkan setelah beliau wafat.

Misteri Kekebalan dan Eksekusi di Benteng Pendem
Belanda kewalahan menghadapi taktik gerilya yang dipimpin oleh Kiai Muhammad Nur Salim di wilayah Ngawi sejak pertengahan abad ke-19. Dalam memori kolektif masyarakat lokal, sosoknya dikenal memiliki kedalaman spiritual yang membuat otoritas militer Belanda frustrasi. Legenda menyebutkan bahwa sang Kiai kebal terhadap peluru dan senjata tajam saat eksekusi militer standar dilakukan.
Langkah drastis pun diambil. Belanda menangkapnya dan melakukan eksekusi keji dengan menguburnya hidup-hidup di dalam kawasan benteng agar makamnya tidak mudah diakses rakyat dan dijadikan simbol perlawanan baru.
Namun, upaya memutus akses tersebut justru gagal total. Lokasi makam ini malah abadi sebagai titik koordinat penting dalam ingatan sejarah rakyat Ngawi tentang kepahlawanan kaum sarungan.
Tingkat akurasi ingatan kolektif ini mencapai 100 persen dalam menjaga marwah sang pejuang di mata generasi muda Ngawi.
Ramadan: Rahim Kemerdekaan dan Restu Ulama
Perjuangan fisik di pelosok daerah seperti Ngawi menjadi fondasi bagi peristiwa besar Proklamasi 17 Agustus 1945. Momen bersejarah tersebut jatuh tepat pada 9 Ramadhan 1364 Hijriyah.




Tinggalkan Balasan